Wednesday, September 10, 2008

Why Me? Why?

Suasana hati gue belakangan ini bisa dibilang cukup berantakan, emosional, ga mudeng kalo diajak ngobrol. Satu waktu gue bisa seneng banget, tau tau langsung berubah jadi mellow seketika. Seperti tadi malem, gue begitu merasa hopeless sama kehidupan (cinta) gue. Kenapa dari dulu sampe sekarang gue ga pernah bisa memiliki orang yang gue cintai, sebanyak apapun pengorbanan gue, segila apapun gue mengejar mereka.
Gue ga mau banyak, gue Cuma pengen dicintai, that’s it. Gue Cuma pengen merasakan cinta yang sebenarnya, senangnya, sedihnya sampe sakitnya cinta. Gue tau gue punya keterbatasan emosi, gue ga bisa nangis sejak bokap gue meninggal, sesedih apapun gue, seterharu apapun gue, airmata ini ga bisa mengalir lagi. Sekarang ini bisa dibilang gue sedang memasuki fase jatuh cinta yang paling aneh, gue ga pernah ketemu orang ini, gue Cuma chatting dan liat fotonya di friendster. Tapi entah kenapa gue belingsatan ga tentu arah, seakan emang orang ini adalah orang yang tepat buat gue? Seakan gue udah mengenal orang ini sejak dulu? Gue ga pernah ngerasain hal seperti ini. Ini terlalu gila, gimana kalo dia ga seperti yang gue harapkan? Atau yang paling parah, gimana kalo gue ga cukup baik buat dia kalo kita ketemu nanti, gue tau gue terlalu dramatis dalam menghadapi hal ini, terlalu berlebihan, tapi ada orang yang bilang kalo ini wajar, yang ga wajar kalo gue ga bisa mengendalikan emosi dan hati gue.
I don’t know.. Gue Cuma berandai, kenapa gue ga ketemu orang ini sejak dulu, sejak dia masih single mungkin? Nasib orang ga ada yang tau bukan? Suatu hari gue Cuma ngotak ngatik friendster gue dan tiba – tiba gue termehek mehek sama orang ini. Gue Cuma takut kalo ini bakal berakhir Cuma dalam satu malam aja, gue takut gue ga cukup baik buat dia, gue takut gue ga bakal pernah memiliki tempat di hatinya. Gue Cuma berdoa, mudah – mudahan gue bisa ketemu dia, atau at least malam ini dia mau nelpon gue untuk yang pertama kalinya.
Gue emang selalu bodoh, gue mencintai, gue memberi, tanpa pernah mendapatkan cinta itu buat gue sendiri. Gue lelah sendirian, gue pengen ada orang yg memperhatikan gue walaupun Cuma sekadar telpon atau sms.. gue udah capek sakit hati. Kalau gue boleh berteriak sama Tuhan, kenapa gue sih? Kenapa orang lain begitu mudah mendapatkan orang yang tepat, kenapa mereka begitu mudah melepas satu cinta dan mendapatkan cinta yang lain dalam waktu sekejap mata? Hari ini gue pasrah… mudah – mudahan Tuhan akan mempertemukan gue dengan sang cinta hari ini, bagaimanapun caranya…

Jakarta September 11, 2008, 9:15 AM

Begitu Salah Begitu Benar










aku bahagia dengar kata cintamu

Tapi aku sedih menerima kenyataan

bahwa tak hanya diriku yang menjadi milikmu

bahwa tak hanya diriku yang menemani tidurmu

bahwa tak hanya diriku ada di hatimu selamanya

ini begitu salah tapi ini juga

begitu benar untuk aku yang dilanda

cintamu yang terus membakar aku

Cintamu yang akhirnya membunuhku

aku bahagia dengar kata cintamu

tapi aku sedih menerima kenyataan

bahwa tak hanya diriku yang menjadi milikmu

bahwa tak hanya diriku yang menemani tidurmu

bahwa tak hanya diriku yang slalu ada di hatimu selamanya

bahwa tak hanya diriku yang menangis

saat kau terpisah dengan ku

bahwa tak hanya diriku yang terbunuh

saat kau ada bersamanya

ini begitu salah tapi ini juga begitu benar untuk

aku yang dilanda cintamu yang terus membakar aku

cintamu yang akhirnya membunuhku

ini begitu salah tapi ini juga begitu benar untuk

aku yang dilanda cintamu yang terus membakar aku

cintamu yang akhirnya membunuhku

Ini begitu salah tapi ini juga begitu benar untuk

aku yang dilanda cintamu yang terus membakar aku

cintamu yang akhirnya membunuhku ...





*[aku yang dilanda cinta yang aneh, yang terus melanda, berharap untuk segera bertemu denganmu...]*

Tuesday, September 09, 2008

The Last Day of Jakarta

[ Ritta ]


Ritta memacu mobil SUV nya dengan nafas menderu dan jantung berdebar. Pikirannya terus tertuju pada anaknya yang demam tinggi di rumah. Juga suaminya yang.. ah aku harus cepat pulang! Pikirnya seraya menginjak pedal gas.
Jalan menuju rumahnya yang berada di utara Jakarta, yang biasanya lengang kini tampak carut marut, penuh dengan manusia – manusia yang begitu marah dan mengamuk. Dikelilingi asap tebal yang mengepul dari mobil – mobil yang dibakar membuat Ritta melebarkan matanya menghadapi jalan raya.

Mudah – mudahan kerusuhan tidak sampai ke daerah rumahnya, pikiran itu terus diulang – ulangnya dengan panik. Matanya basah mengingat kondisi Ashlan yang ditinggalkannya dan suaminya Armand yang sudah satu minggu lebih tidak pulang. Beruntung atasannya Pak Adrian, mengizinkannya pulang lebih cepat.

Armand.. ya Armand yang begitu ia cintai, begitu ia kagumi sepanjang umur pernikahan mereka telah mendua. Ritta memergokinya sedang memasuki sebuah hotel bintang lima di kawasan mega kuningan, ketika ia sedang dengan senangnya menimang hadiah ulang tahun yang baru dibelinya untuk Armand. Ia teringat saat itu badannya serasa membeku dan lututnya terasa sangat lemas hingga ia terduduk di trotoar setelah mobil Armand dan perempuan itu memasuki pelataran lobby hotel tersebut. Beruntung salah satu satpam hotel itu membantu dirinya yang hampir membeku di trotoar dan membantunya memasuki mobilnya yang terparkir tak jauh dari hotel itu. Ia bergegas memacu mobilnya menuju gedung kantornya dan menangis tanpa suara di dalam mobilnya. Hatinya begitu terguncang melihat Armand, Armand yang setia, Armand yang merupakan menantu favorit ayahnya, Armand yang selalu hadir disisinya saat ia sedih.

Sejak hari itu Armand seakan menghilang, tak masuk kantor, dan juga tak pulang ke rumah. Ritta telah kehabisan air mata dan tenaga untuk mencari suaminya. Ia pasrah, sampai suatu hari ia memergoki Armand untuk kedua kalinya di sebuah mall. Amarah dan kekecewaan yang memuncak, membuatnya berani memanggil suaminya yang sedang duduk di sebuah coffee shop, tertawa – tawa dengan seorang perempuan cantik berambut merah.
“ Mas Armand?..” ucap Ritta bergetar menahan tangis seraya mendekati meja Armand.
“ Rit..Ritta?” Armand tergelagap terkejut melihat kedatangan istrinya.
“ Gila kamu mas, satu minggu aku nyari kamu, satu minggu aku ga tidur nungguin kamu.. sekarang kamu ada disini, sama perempuan lain!! Otak kamu ada dimana mas??” seru Ritta tertahan, emosinya tidak membuatnya menjerit atau menampar Armand, yang begitu ingin ia tampar sejadi – jadinya.
“ Apa penjelasan kamu mas? “ tanya Ritta sambil menatap nanar suaminya.
“ … kita cari tempat lain yuk, aku jelasin..” Armand yang tampak lemas menggandeng Ritta mencari tempat lain, meninggalkan wanita yang anehnya tampak tak terkejut melihat kedatangan Ritta. Dasar pelacur murahan! Dengus Ritta dalam hati sambil melirik tajam kearah perempuan itu. Penjelasan selanjutnya dari Armand ternyata sesuai dugaannya selama ini.
“ Aku sudah menikah siri dengan Nora…maafkan aku Rit” ucap Armand perlahan.
“ Maaf??? Kamu bener – bener udah gila ya mas?” seru Ritta
“..a..aku mencintai dia Rit, sejak sebelum menikah dengan kamu..”
Ritta merasa dadanya tertusuk, jadi selama ini suaminya telah berpura – pura mencintainya, berpura – pura menikmati hubungan mereka ditempat tidur, semuanya pura – pura. Ritta merasa mual.
“ Cukup mas, aku mau pulang..” ucapnya lirih seraya berjalan tertatih menuju pintu keluar. Armand bahkan tak mencegah kepergiannya. Betapa ia telah merasa tertipu, merasa dibodohi oleh sikap Armand yang penuh kasih sayang selama ini.

Gemuruh hujan dan bunyi sirene pemadam kebakaran mengejutkan Ritta dari lamunannya. Tanpa sadar ia sudah berada di depan lobby apartemennya. Ritta Bergegas meninggalkan mobil dan berlari memasuki lift dan menekan angka 35. Sekilas ia melihat pepohonan yang beriak tertiup angin yang menderu disertai hujan yang menggila. Hujan yang sudah satu bulan ini membekukan Jakarta, belum lagi demonstrasi yang tanpa henti dibuat oleh manusia – manusia yang tak kenal lelah memperjuangkan aspirasi mereka yang membabi buta, bahkan ditengah badai yang bisa memporak porandakan aksi mereka.

Ritta berjalan menuju unit apartemennya, dan tercekat melihat pintunya setengah terbuka. Ashlan! Pekiknya sambil menerobos kedalam apartemennya. Pemandangan yang mengejutkan menyambutnya di ruang tamu. Armand dan perempuan setan itu! Armand yang sedang menggendong Ashlan, sambil membawa koper, terkejut melihat Ritta yang terengah dengan mata memerah menahan amarah.
“ MAU KEMANA KAMU???” jeritnya
“Mau dibawa kemana Ashlan ?? “ Jeritnya lagi, kali ini airmatanya sudah menggenangi kedua bola matanya.
“ Lebih baik Ashlan ikut sama aku Rit, di daerahku masih lebih aman situasinya”
“ Iya Rit, biar Ashlan ikut sama kita dulu ya..” perempuan iblis itu menimpali dengan tenangnya.
“ Tidak!! Tidak ada yang bisa memisahkan aku dengan anakku, anak yang kau dapat dari hasil berpura - pura, Armand, ingat??!” sergah Ritta
“ Udahlah Rit, kamu ga liat diluar, badai kencang sekali! Ashlan bakal lebih aman bersama kita berdua..” Tukas Armand.
Berdua? Armand, si perempuan setan akan mengasuh anak yang telah menjadi hidup dan matinya.
Entah ada kekuatan dari mana, Ritta menarik Ashlan yang tertidur, menghempasnya ke sofa hingga terbangun dan menangis.
“ Kalau kamu mau ambil anakku, bunuh aku dulu mas!” teriak Ritta, putus asa. Sekilas ia melihat pintu jendela besarnya yang sedikit terbuka. Dengan membabi buta, ia mendorong Armand dan Nora kearah jendela itu. Armand dan Nora yang tak menyangka Ritta akan berbuat seperti itu, terlambat untuk melawan. Keseimbangan mereka goyah, dan terdorong jatuh keluar jendela dari lantai 35 apartemen Ritta dan Armand. Ritta bergetar hebat, nafasnya memburu, melihat kebawah balkonnya, Armand dan Nora sudah tewas, bergandengan tangan di atap lobby apartemennya.
Di saat yang sama, Ritta melihat ombak yang teramat besar berdiri di kejauhan dan semakin mendekat. Ritta tercekat, Ashlan! Ia meraih tubuh anaknya yang masih menangis, memeluknya sambil berbisik lirih,

“ Allahu Akbar…..”

Jakarta, September 9, 2008 20:20:00

Monday, September 08, 2008

Unreasonable Tears

To my dear someone
the one I've never met
I remembered the first time I saw your picture
I gasped and felt my heart beat faster..
Funny how I could fall for you, just from a single picture

I just want to see you..
I just want to know that you're real..
I just want to feel your touch..

Now I'm in tears
a tears for someone I've never met
strange, but true
I want to meet you so bad I just didn't know what to do right now
Please, my dear, I will go wherever you want me to go..
Just let me see your eyes..

---aku jatuh cinta sama kamu... dan kamu tau itu---