Thursday, March 11, 2010

The Last Day Of Jakarta [EPILOG]


EPILOG

Jakarta, 21 February 2013.

Tiada kata yang bisa menjelaskan situasi kota ini selain, Hancur. Tsunami yang menghantam seluruh area kota tak terkecuali, telah membuat pemandangan yang mengerikan dan menjijikkan. Gedung – gedung tinggi hancur, air laut masih mengalir kencang, menenggelamkan kota ini dalam sisa –sia nafasnya. Mayat – mayat bergelimpangan, sebagian mengapung di tengah aliran air yang semakin deras. Sebagian tergantung gantung bahkan tersangkut di jendela gedung – gedung tinggi. Jakarta yang begitu dibanggakan penduduknya, kini tak ubahnya seperti kota mati, dingin dan penuh aroma kematian.

Mia tergeragap, kepalanya pusing, dahi dan kepalanya terluka. Ia berusaha bangun dan menggerakkan kakinya, tapi tak bisa, kakinya terjepit pilar yang jatuh menimpanya. Mia berusaha menariknya, berhasil, tapi kakinya tak lagi bisa digerakkan. Mia melihat sekelilingnya sambil berusaha mengingat – ingat apa yang sudah terjadi. Tadi ia hanya meninggalkan kantornya sebentar untuk merokok sebentar di lantai atas. Hingga tiba – tiba ia melihat gelombang air laut setinggi langit menimpa gedungnya. Dan disinilah ia, terluka, dan nyaris lumpuh.

Sambil merangkak kesakitan Mia bergerak menuju arah cahaya yang datang dari sela – sela reruntuhan ini. Seharusnya ia berada di lantai 30 gedung ini, tetapi ketika ia melihat keluar, rasanya tak percaya melihat tinggi air sudah hampir merendam seluruh kota ini. Mia tak menangis, ia memang tak bisa menangis, air matanya sudah habis ketika ayah dan ibunya meninggal dulu, airmatanya juga sudah tak bisa mengalir ketika seorang pemabuk merenggut kehormatannya dengan paksa. Pemabuk yang ia panggil paman. Kenangan menjijikkan itu bermunculan dikepalanya seperti video.

Malam itu, tepat 2 bulan setelah kematian kedua orangtuanya akibat kecelakaan di jalan tol, Mia yang baru berusia 18 tahun saat itu, tengah menangis di kamarnya. Hingga tiba – tiba pintu kamarnya yang terkunci didobrak oleh seseorang. Pamannya yang sudah bertelanjang dada, berdiri didepan pintu kamarnya, dengan wajah merah penuh nafsu menjijikkan. Sia – sia Mia berusaha berteriak atau lari, rumah itu kosong, hanya ada ia dan pamannya yang ditugaskan oleh keluarga besar Mia untuk menjaga Mia. Di tengah tangis dan amarahnya, Mia berusaha meronta, tapi semua pertahanannya tak berguna, tubuh pamannya yang begitu besar seperti monster yang sedang melahap mangsanya. Kehormatannya terenggut begitu saja. Meninggalkan tangis dan amarah yang meluap. Lelaki itu pergi entah kemana setelah kejadian malam itu. Alasan ini pula yang membuat Mia tak pernah berhubungan dengan lelaki manapun.

Isi perut Mia seakan meronta keluar, mengingat kejadian naas itu, ia memuntahkan isi perutnya, dengan rasa jijik dan amarah yang kembali membakar.

Rasanya begitu sepi, sepertinya Mia adalah satu – satunya manusia yang selamat dalam bencana ini. Ia menatap sekelilingnya berharap ada seseorang, yang juga selamat. Tapi tak ada, tak ada tanda – tanda kehidupan, hanya mayat – mayat yang bergelimpangan, menimbulkan bau busuk yang menusuk hidung Mia. Ia muntah, lalu merasa lapar, teramat lapar, perutnya terasa sakit.

Mia merangkak menuju sebuah reruntuhan pilar yang menjulur keluar, tepat diatas lautan air yang sudah mulai tenang. Matanya mulai mencari, mencari seseorang, siapapun itu, mulutnya merintih menahan sakit di pergelangan kakinya. Sebelum mencapai ujung, ia berhenti untuk melihat kakinya yang patah, jejak darah berlumuran di reruntuhan, Mia merasa lemas, rasanya ia sudah terlalu banyak mengeluarkan darah.

Tiba – tiba seberkas sinar menyilaukan muncul dari langit, sinar yang semakin membesar, membuat pemandangan mengerikan di sekitar Mia menjadi memutih, Mia menjerit, matanya seakan terbakar. Sinar mataharikah ini? Mengapa begitu membutakan mata? Inikah akhir dunia ini? Mia merangkak sembari menarik kakinya yang patah, rasa sakit sudah tak ia hiraukan, hingga sampailah Mia diujung sebuah tiang beton besar yang menjorok keluar.

Mia menengadahkan kepalanya, mencoba melihat langit diantara sinar yang Maha terang yang hampir membakar matanya. Nihil, langit begitu terang seperti terbakar, Mia mencoba berbaring tertelungkup, tenaganya sudah hampir mencapai batasnya.

Dari kejauhan Mia mendengar suara ledakan besar, seakan membuat telinganya nyaris tuli, Mia mencoba bangkit dan melihat apa yang terjadi, ledakan dahsyat itu tampak mendekat, dan semakin mendekat. Mia gemetar, inilah akhirnya, semuanya hancur, dan inilah akhir hidupnya. Tepat sebelum ledakan itu mencapai dirinya, Mia menjatuhkan dirinya kedalam lautan api dibawahnya.

“Tuhan, terimalah aku dalam pelukanmu..”

Hari itu, 21 February 2013, meleset beberapa bulan dari ramalan kuno bangsa Aztec yang meramalkan akhir dunia akan terjadi di tahun 2012, adalah akhir dunia, akhir dari segala kesenangan dan penderitaan. Semuanya hancur, luluh lantak, seakan Tuhan memutuskan untuk menghancurkan semuanya untuk membangun bumi baru yang lebih baik.

Sang Akhir akan datang, bersiaplah..

The Last Day Of Jakarta III

The Last Day Of Jakarta

Chapter III : Shiva & Krishna

Shiva merapatkan sarung yang melindungi tubuhnya, cuaca dingin di kota ini sudah sampai di taraf yang menakutkan. Terlebih ia harus menerima kenyataan bahwa ia harus tidur di lantai dingin sebuah masjid, bersama berpuluh bahkan beratus pengungsi yang ikut menumpang di masjid ini karena rumah tinggal mereka musnah dihantam banjir besar yang melanda daerah mereka kemarin malam. Termasuk rumah petak yang disewa Shiva, yang hanya cukup untuk dirinya sendiri, berikut kecoak dan tikus yang tak lagi membuatnya menjerit – jerit ketakutan setiap malam. Sudah biasa, pikir Shiva waktu itu. Sebagai seorang perempuan muda yang cantik, dan bertubuh indah bak model, kepindahan Shiva ke lingkungan ini mengundang decak kagum dan juga cemoohan dari para penghuni kampung tersebut. Ada yang bilang, kok mau – maunya wanita secantik Shiva tinggal dirumah petak di gang becek di sudut kota Jakarta ini? Bahkan ada yang mengira Shiva adalah artis sinetron yang sedang mendalami peran sebagai orang miskin. Tak sedikit pula, ibu – ibu yang haus gossip murahan, mengecapnya sebagai pelacur yang sedang dikejar – kejar istri pelanggannya, hingga harus bersembunyi di daerah ini. Semuanya Shiva telan mentah – mentah, dan senyumnya tetap tersungging saat melewati kerumunan orang yang selalu ada di depan rumahnya. Terkadang ia menangis tersedu – sedu di tengah malam meratapi nasibnya yang berubah 180 derajat ini, dari putri seorang pengacara tangguh yang kaya raya hingga terusir keluar dari istananya dan harus tinggal di pemukiman kumuh ini.

Tubuh Shiva yang menggeletar meradang ketika memikirkan perempuan sundal itu, namanya Nora, perempuan liar, murahan, Shiva membencinya. terlebih ketika ia mendengar suara tawanya yang seperti setan. Sayangnya, pelacur inilah yang dinikahi ayahnya untuk menggantikan mendiang ibunda Shiva yang meninggal setahun yang lalu. Pelacur ini yang berusaha menggantikan posisi ibunya, Shiva bahkan tak sudi makan satu meja dengan sundal ini, Shiva bahkan tak pernah mengindahkan ajakan ayahnya untuk makan bersama Nora. Ketika ayahnya meninggal, semua mimpi buruk Shiva menjadi kenyataan, belumlah tanah kuburan ayahnya kering, Nora sudah membawa pria lain masuk dalam rumahnya, pria yang Shiva ketahui sudah memiliki istri dan anak, pria yang juga bekerja di perusahaan yang sama dengan Shiva, namanya Armand. Lelaki bodoh dan perempuan sundal itu kemudian mengusirnya dari rumah, tanpa alasan, hari itu Shiva mendapati barang – barangnya sudah berserakan di teras rumah, dan satpam yang belum pernah ia lihat menyuruhnya untuk mengambil barang – barangnya dan pergi secepatnya. Shiva seperti disambar kilat saat itu, gamang dan sakit hati. Lalu disinilah ia, tidur bertumpuk – tumpuk dengan penghangat seadanya di sebuah masjid, bersama pengungsi lainnya.

Shiva beranjak bangun, meraih tasnya untuk mengambil sebatang rokok, menyalakannya dan mengambil ponselnya. Tangannya bergetar mencari nama seseorang di ponselnya. Krishna, kekasihnya yang sudah lama tak ia hubungi, mungkin ia sudah bersama perempuan lain, pikir Shiva. Lelaki tampan ini memiliki tubuh yang besar, berbulu dan emiliki berahi yang tinggi, bagai binatang buas, setiap pertemuan mereka, selalu berakhir dengan Shiva yang terseok – seok berjalan pulang dengan tubuh memar dan sakit di selangkangannya. Tapi Shiva menikmatinya, Shiva mencintai Krishna walaupun ia sering menyiksa Shiva. Mungkin aku sudah gila, mungkin juga mengidap sado masochist, pikir Shiva lagi. Ditekannya tombol ponsel untuk menghubungi Krishna.

Tuuuut..tuuut…

“ Halo Shiva?”

“ Halo Krish.. kamu lagi dimana?”

“ aku di rumahku di cibubur va, kamu dimana? Ga kenapa – napa?” suara Krishna mulai terdengar terputus – putus.

“ aku ngga apa – apa krish, Cuma kena banjir aja, kamu bisa jemput aku krish?”

Mendadak pertanyaan itu membuat Krishna terdiam.

“ halo..halo.. krish?” tanya Shiva lagi, perasannya kurang enak.

“emm.. jemput kamu ya.. emmm…gimana ya?” Krishna tergagap. Selintas Shiva menangkap suara lain yang ada di belakang suara Krishna, suara laki – laki.

“ kamu lagi sama siapa sih Krish?” amarah mulai mewarnai suara Shiva

“ sama temenku kok va, makanya aku ga bisa jemput kamu..” suaranya terdengar gugup.

“…. Siapa sih babe?... ayo peluk aku lagi..” suara pelan di belakang suara Krishna itu terdengar oleh Shiva, nafasnya meradang. “ Siapa itu Krish??!!” bentak Shiva marah.

“ ehmm.. temenku va..., sori hp ku low bat nih, aku tutup ya va, sorry..” Krishna menutup teleponnya. Shiva tertegun menahan amarah. Bajingan!! Lelaki itu sekarang tak hanya tidur dengan wanita, tapi juga pria! Shiva merasa mual. Sialan!!!

Shiva berusaha kembali tidur, tapi amarahnya membuatnya tak bisa memejamkan mata, rasanya Shiva ingin menembaknya saat itu juga. Biar dia mati, lelaki tak tahu diuntung, seru Shiva dalam hati.

Keesokan harinya banjir telah surut, hujan telah berhenti, Shiva bergegas berangkat ke tempat kerjanya, tak ada waktu untuk pulang ke rumah, pikirnya. Ia sekarang bekerja di sebuah perusahaan sebagai customer service. Seharusnya karirnya sudah meningkat, tapi dua minggu lalu, ketika Nora mengusirnya dari rumah, Armand pun berkonspirasi dengan atasannya untuk memecat Shiva. Namanya di black list di sejumlah mailing list, hingga akhirnya Shiva harus memulai lagi dari awal. Bergegas Shiva menaiki tangga menuju kantornya yang berada di kawasan Sudirman. Sayup – sayup mulai terdengar letusan senjata, dan teriakan – teriakan para pengunjuk rasa yang meneriakkan aspirasi mereka, yang mulai terdengar basi oleh Shiva. Telinganya sudah mulai terbiasa mendengar letusan senjata, matanya sudah mulai terbiasa melihat kerusuhan, dan hidungnya sudah mulai terbiasa mencium bau darah. Bergegas ia menaiki lift. Ada dua orang lelaki tampan didalamnya, yang satu Shiva sudah mengenalnya, pak Adrian, yang berkantor di depan kantornya, dan yang satunya wajahnya tampak familiar, tapi ada perasaan tak enak berkelebat di dada Shiva.

Shiva terkejut melihat kantornya yang kosong, tak ada karyawan satupun yang masuk kerja hari ini kecuali dirinya dan sang resepsionis, Mita.

“Mit.. pada kemana nih orang – orang?” tanyanya pada Mita

“ Pada kebanjiran kayanya va, macet dimana – mana pula..” jawab Mita

“ Pak Simon juga ga masuk hari ini?” tanya Shiva

“ Nggak, katanya ada keluarganya yang ketembak demonstran kemarin va,” jawab Mita santai.

Shiva bergidik, bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan sesantai itu, duh walaupun Shiva sudah terbiasa dengan semua ini, tetap saja jawaban Mita membuatnya merinding.

Tanpa terasa, jam makan siang sudah tiba, Shiva merasa perutnya kelaparan, ia tak sempat sarapan tadi pagi. Ia menggamit tasnya dan bergegas menuju resepsionis untuk mengajak Mita makan siang. Ternyata meja Mita sudah kosong, tak ada tas yang biasa ia tinggalkan, tak ada kertas – kertas yang biasanya berserakan, kosong, seakan Mita tak pernah masuk kantor hari ini. Aneh, pikir Shiva. Sudahlah aku sekalian pulang saja, pikirnya, toh tak ada orang pula di kantornya hari ini.

Setibanya di luar, kericuhan semakin menjadi, bau darah semakin menusuk di hidung Shiva. Langit semakin gelap, dan udara dipenuhi asap dan amarah para demonstran yang semakin menggila. Shiva mulai berlari menjauhi gedung menuju jalanan. Ia berlari menuju daerah Monas, yang cukup jauh dari kantornya, entah tenaga apa dan alasan apa yang membuat Shiva terus berlari, hingga hak sepatunya patah, Shiva tersadar. Apa yang membuatnya berlari seperti ini? Tiba – tiba sekelebat wajah yang ia kenal baik melintas di sela kerumunan demonstran. Krishna! Mendadak amarah yang sudah hampir mendingin di dada Shiva, kembali meledak.

“Krishna!!! “ teriaknya penuh amarah sambil berlari menghampiri Krishna yang tampak panik. Ada seorang lelaki memeluknya, sialan! Ternyata lelaki yang dilihatnya tadi pagi di lift adalah pasangan mesum pacarnya!

“kemana kamu tadi malam? Kamu tahu apa yang terjadi sama aku??? Siapa dia krish?” teriaknya membabi buta. Takkan ada orang yang peduli betapapun aku berteriak, pikir Shiva. Kota ini sudah di ambang kehancuran!

“…aku sudah ngga bisa sama kamu lagi va, aku sekarang memiliki Wishnu..” ujar Krishna terbata.

Shiva meradang, “ Kamu gila Krish!! Setelah apa yang aku kasih sama kamu selama ini? Sinting! Sakit jiwa kamu!!” nafas Shiva tersengal, amarahnya membuat dadanya sakit. Satu – satunya warisan yang luput diambil Nora, adalah penyakit jantung bawaan ini.

“ Udahlah va, dia udah ga mau sama kamu, dia udah punya aku, lagian sekarang ini sebaiknya kamu cari jalan pulang, bisa mati kamu disini..” Wishnu yang sedari tadi hanya diam, tiba – tiba menimpali.

“ Diaammm!!! Aku ga ada urusan sama kamu, dasar anjing!!” amarah Shiva seakan sudah tak tertahan lagi.

Shiva merogoh tasnya mencari sebuah benda pemberian ayahnya yang selalu ia bawa kemanapun, rapi terbungkus kain khusus, agar tidak terdeteksi metal detector kemanapun Shiva pergi.

Shiva, dunia ini kejam nak, kamu tahu kan, papa ini banyak musuh, banyak sekali orang yang ingin membunuh papa, dan keluarga papa, Cuma kamu yang papa punya, lindungi diri kamu sendiri dengan pistol ini sayang, akan tiba waktu yang tepat buat kamu untuk menggunakannya…. Pasti akan tiba sayang..

Kata – kata ayahnya tersebut terngiang – ngiang di telinga Shiva, seiring tangannya yang mengacungkan pistol dan menodongkannya ke arah Krishna dan Wishnu.

Krishna.. “ nafasnya tercekat “ … kamu pilih aku, atau dia?”

“ Shiva, kamu apa – apaan sih?? Turunin pistol itu va!!” seru Krishna panik.

“ kamu pilih dia, dan aku akan bunuh kamu!!” teriak Shiva, mukanya memanas dan matanya terasa pedih.

“ kamu ga akan berani va! Kamu mencintai aku, kamu ga mungkin bunuh aku, dan aku ga akan pernah balik sama kamu, aku mencintai Wishnu!!” ejek Krishna

“ Kamu ga akan berani va..!” tambahnya lagi.

“ O ya? Berarti kamu ga kenal aku selama ini Krish…” ujarnya pelan. Ia menarik pelatuk pistolnya dan menembakkannya kearah kepala Krishna. Rasanya waktu disekeliling Shiva seakan melambat, sehingga ia bisa melihat peluru itu perlahan menembus kening Krishna. Semua sudah berakhir sekarang.

“ KRISHNAAA…!!!” teriak Wishnu sambil memeluk tubuh Krishna yang tewas seketika.

“ Kalau kamu masih mau hidup, lebih baik kamu lari Wishnu..” ujar Shiva dingin. Wishnu menggeletar, tangannya melepaskan tubuh Krishna lalu lari tergopoh – gopoh. Dasar banci pengecut! Kutuk Shiva dalam hati. Sakit dadanya semakin menjadi. Dari kejauhan Shiva bisa melihat sekelilingnya mulai gelap, air setinggi gedung dengan kecepatan tinggi mulai menelan pemandangan dihadapannya.

Shiva berlutut, mencium bibir dingin Krishna, dan menutup matanya yang terbelalak. “aku cinta kamu sayang… sampai ketemu ya..”

Dada Shiva seakan meledak, jantungnya perlahan mulai melemah, seiring ombak tsunami yang berada di atas kepalanya, tapi Shiva tak berlari, ia berdiri, membiarkan air itu menghancurkan tubuhnya, semuanya sudah berakhir.

“ Ayah.. Ibu.. aku pulang..” bisiknya lirih

Wednesday, March 10, 2010

Aku Ingin / Bermimpi

Aku Ingin..
Melihatmu dari kejauhan, menikmati setiap senyum dan canda tawamu
Memandangimu berjam – jam bahkan berhari – hari dan membawamu kedalam mimpiku
Memilikimu dalam hatiku, dan membawamu pulang ke dalam relung jiwaku..

Aku Ingin
Memelukmu hingga nafas ini seakan menjadi milikmu
Mencium bibir lembutmu, membiarkanmu menelanjangiku..
Mengerang, menggeliat, meraung dalam kenikmatanmu..

Aku Ingin
Sepotong cinta dari dalam hatimu
Seulas senyum dari bibirmu
Segenggam hangatnya jemari tanganmu..

Aku Ingin
Seluruh hidupku hanya untukmu
Seluruh ragaku hanya untuk kau sentuh..
Seluruh jiwaku untuk milikmu

Aku Ingin
Pergi meninggalkan semua ini denganmu
Memulai hidup yang baru, hidupku yang hanya untukmu
Hingga sang ajal, merenggutku dan mempertemukan kita kembali

Aku Ingin
Merasakan indahnya rasa cinta yang kudamba..
Merasakan indahnya melayang karena cinta
Merindu, menari dalam kesemuan hidup yang tercipta untuk cinta

Aku Ingin
Melepasmu pergi tanpa rasa kehilangan
Membiarkanmu pergi jauh ke tanah baru tanpa rasa ingin mati
Membiarkan cinta matimu memelukmu dan membuatmu melupakan aku

Aku Bermimpi
Bahwa semua permainanmu ini akan berhenti
Bahwa kau akan menyadari sebesar apa cinta yang membakar dadaku untukmu
Bahwa kau akan mencintaiku dan hidup hanya untukku

Aku Ingin
Lepas dari jerat hatimu, cintaku
Karena tubuh dan jiwa ini semakin mencandumu
Karena kepala ini hanya memikirkanmu dan membuat hidupku hancur
Lepaskan aku cinta..
Takkan kubiarkan lagi dada ini bergemuruh ketika melihat wajahmu
Takkan kubiarkan lagi luka menganga ini terus kau sirami dengan garam

Aku Ingin
Tidur nyenyak tanpa memikirkanmu di malam - malamku

Aku Ingin
Terbangun di pagi hari dan melupakan tentang keberadaanmu sepenuhnya

Aku Ingin
Meninggalkanmu wahai cintaku, cahaya matahariku..
Walau bara ini takkan pernah padam
Selamanya.. sampai ku mati..

Jangan/Salahkan

Jangan salahkan aku karena aku seperti ini
Bukankah ini yang mereka mau ketika mereka meneriakiku "banci!!" ?

Jangan salahkan aku yang menantang semua orang
Bukankah dulu aku selalu menunduk dan menuruti keinginan semua orang?

Jangan salahkan aku yang ingin membicarakan semua isi hatiku
Bukankah dulu aku selalu dilarang untuk membicarakan isi hatiku karena dianggap kurang ajar?

Jangan salahkan aku yang hanya ingin meneriakkan kebenaran yang ada
Bukankah kejahatan akan selalu kalah pada akhirnya?

Jangan salahkan aku yang terlalu mencintaimu
Bukankah cinta tak pernah salah?

Jangan salahkan aku yang tak bisa menangis
Bukankah air mataku sudah habis mengalir di masa kecilku?

Jangan salahkan aku yang terkadang ingin mengakhiri semuanya
Bukankah dunia ini akan musnah juga pada akhirnya?

Pelatuk



Keringat dingin membasahi kening Marlon, nafasnya tersengal – sengal seakan tak ada udara mengalir melalui jalur pernafasannya. Tangannya mengepal kencang, mencoba melepaskan ikatan tali yang mengekang erat kedua belah tangannya. Tak ada jalan keluar, pikirnya, tak ada jalan untuk kembali mengulang semua ini dari awal. Lututnya terasa sakit, ikatan di kakinya memaksanya untuk menekuk lututnya rapat – rapat. Perlahan kakinya mulai terasa kesemutan dan mati rasa. Ingin berteriak rasanya, tapi lidahnya seakan kaku dan kelu. Airmatapun tak lagi mengalir, ini sudah jauh melampaui rasa takutnya, ini…

Braakkkk!

Dalam kegelapan, Marlon mendengar suara pintu didobrak kencang, membuat sinar yang menyilaukan dari ruangan lain masuk dan membutakan mata Marlon, betapa tidak, sudah dua hari ia berada dalam kegelapan gudang ini, matanya hanya bisa melihat dalam kegelapan, bukan cahaya menyilaukan seperti ini. Marlon memicingkan matanya, mencoba melihat siapa yang datang. Pasti lelaki sialan itu, lelaki yang menculiknya dari kantor dan melemparnya ke gudang laknat ini dua hari yang lalu.

Hari itu, Marlon hanya ingin pulang ke apartemennya dan menemui Raul, sahabat sekaligus orang yang diam – diam ia cintai selama ini. Sudah lima tahun belakangan ini, hidup Marlon kembali berwarna sejak kehadiran Raul yang tampan, sedikit jahil dan penuh semangat itu. Marlon mengenalnya sejak Marlon nyaris tertabrak mobil Raul saat ia hendak menyebrang menuju apartemennya. Saat itu Marlon hampir melabrak Raul, tapi wajah tampan Raul yang tampak sangat menyesal itu meluluh lantakkan amarah Marlon seketika. Ternyata Raul tinggal di apartemen yang sama, dua lantai diatas apartemen Marlon. Sejak saat itu, hidup Marlon tak lagi sepi, hampir setiap hari ia bertemu Raul untuk sekedar minum kopi atau mengobrol sambil tertawa keras – keras. Marlon mulai jatuh cinta, tapi ia takut kalau Raul sampai tahu, ia akan meninggalkan Marlon karena jijik atau takut. Marlon hanya menyimpan perasaan ini dalam hati, mengubahnya menjadi rasa syukur karena Raul selalu ada disana, walaupun hanya sebagai sahabat.

Malam itu adalah hari ulang tahun Raul, Marlon sangat gembira ketika Raul mengajaknya makan malam di apartemennya. Marlon sudah menyiapkan kado buat Raul, sebuah jam tangan mahal yang dulu pernah diinginkan Raul.

Tapi semuanya gagal dan buyar, sejenak sebelum menyeberang jalan, sepasang tangan besar membekap mulut Marlon, dan ketika sadar, dia sudah ada di sebuah gudang gelap yang entah ada dimana.

“ Selamat malam sayang… apa kabar?”

Jantung Marlon berdetak kencang, suara itu.. tidak mungkin, pikirnya. Marlon tidak bisa melihat wajah lelaki itu, karena gudang ini begitu gelap. Tapi ia begitu mengenal suara serak itu, suara yang pernah menemani hari – harinya dulu. Tapi.. kenapa? Apa – apaan ini?

“ Kok kamu diam? Lapar ya?” ujar suara itu lagi. Nadanya membuat Marlon merinding.

“ …Mar..Marty??” tanya Marlon ketakutan.

“ .. ah, akhirnya kamu ingat aku juga, sayang, kangen ngga sama aku?” ujar Marty sambil menyalakan sebuah lampu tempel.

Kini semuanya terlihat jelas, gudang kotor ini, tumpahan makanan yang membuat gudang ini berbau busuk, bangkai tikus, tumpukan kardus yang entah isinya apa, dan Marty. Lelaki bertubuh besar ini terlihat begitu menyeramkan, tangannya yang kekar, janggut menutupi wajahnya dan tato tengkorak terukir seram di lengan kanannya. Inikah Marty sekarang? Apa yang terjadi? Pikir Marlon. Dulu Marty adalah kekasihnya, 3 tahun mereka menjalin hubungan dan putus begitu saja saat Marlon melarikan diri dari rumah Marty. Marty terlalu posesif, Ia sering mengurung Marlon dalam rumah dan pergi entah kemana, dan ketika ia kembali ia akan meniduri Marlon dengan beringasnya, meninggalkan carut marut di punggung dan selangkangannya. Marlon berhasil kabur dan meninggalkan kota itu dan memulai hidup baru di kota lain. Marty tak pernah mencarinya, sampai sekarang..

“ Lepasin aku Marty, apa – apaan kamu??!” teriak Marlon, amarahnya mulai datang lagi.

Marty tertawa terbahak – bahak. “ …Kenapa, kamu kangen seseorang ya?”

“ Apa maksud kamu??!”, perasaan tak enak mulai menyelinap dalam hati Marlon

“Hmmm.. siapa namanya dia? Oh iya, Raul.. kangen sama dia?” senyum sinis tergambar di wajah Marty. Tidak! pikir Marlon, jangan – jangan.. dari mana ia tahu?

“ Diam kamu Marty!! Jangan kamu bawa – bawa Raul, apa mau kamu dari aku?? Masih mau siksa aku lagi?? 3 tahun kamu siksa aku, masih belum cukup??!” Nafas Marlon tersengal, amarah dan bau busuk membuat nafasnya lebih pendek. Perutnya terasa mual.

“ Yang nyiksa kamu tuh siapa? Aku sayang kok sama kamu, aku tergila – gila sama kamu sayang..” Marty mendekatkan wajahnya pada wajah Marlon. Bau minuman berhembus ke hidung Marlon, membuatnya muak, ia meludahi wajah Marlon.
“ Sialan kamu!!!!” Plaaaakkkkk!! Sebuah tamparan keras menghantam wajah Marlon, darah mulai mengalir dari bibirnya. Marlon tak mampu lagi berteriak, rasa kesal, takut dan jijik bercampur menjadi satu.

“ Kalo kamu kangen sama si Raul sialan itu, nih puas – puasin deh kangen kamu!!” Tiba – tiba Marty menarik tangan seseorang dan melempar tubuhnya ke samping Marlon. “ Raul!!!” jerit Marlon, ketika melihat wajah orang itu. Tubuh Raul terikat dan wajahnya lebam, pasti karena dipukuli oleh Marty.

“ Raul.. kamu ngga apa – apa?” ujar Marlon khawatir
“ Ngga apa – apa Marlon, kamu berdarah… “ ujar Raul perlahan, nafasnya pendek – pendek.

“ Alaaaaahh!!! Udah – udah!!” teriak Marty kesal.

“ Sekarang, kamu berdua ikutin permainan aku.. “ Marty menarik sepucuk pistol dari balik jaketnya.

“ Oke, siapa mau berkorban buat yang lainnya? “ Marty menyeringai. “ Dalam pistol ini hanya ada satu peluru, aku akan mencoba menembakkannya tiga kali saja, jika setelah 3 kali tembakan tidak ada peluru keluar maka kamu bisa bebas, gimana, menarik bukan?” tawanya menbahana, membuat Marlon semakin ketakutan. Tapi ia tak bisa melihat Raul berkorban untuk dirinya, ia begitu mencintai Raul, tak akan ada seorang pun yang bisa membuat Raul terluka!

“ Aku.. aku saja yang ikut permainan ini, jangan bawa – bawa Raul!” cetus Marlon.

“ oooh… so sweet.. ternyata kamu memang cinta mati ya sama Raul ini, tapi kamu tau ngga? Siapa Raul sebenarnya…” Marty merogoh saku jaketnya dan melempar beberapa foto ke wajah Marlon. Ketika foto – foto itu menyentuh lantai, barulah Marlon bisa melihatnya, foto Raul sedang bermesraan dengan seorang wanita. Hati Marlon terasa seperti ditusuk, tapi bukankah ia sudah tahu kalau Raul itu seorang lelaki normal?

Marlon terperangah, rasa ketakutannya mulai mencapai puncak, Marty benar – benar gila! Sesaat Marlon meronta – ronta hebat, lalu sadar, bahwa ia sudah tak mungkin lagi lari dari tempat ini, disampingnya, Raul juga tampak sangat ketakutan, wajahnya tak lagi ceria, hanya lebam dan air mata yang mulai mengalir di pipinya. Ini keterlaluan, pikir Marlon.

Marty menarik tubuh Marlon dan membiarkannya berlutut di hadapan Marty. Pistol itu ditempelkan di kening Marlon yang gemetar. Jantungnya berdetak kencang. Aku takut, pikir Marlon. Benar – benar takut. Air mata merebak di matanya. Marlon mengigit bibirnya, berusaha menahan air matanya.
Marlon memejamkan matanya saat Marty menarik pelatuk pistolnya. Nafasnya tersengal. Ia merasakan pandangan iba Raul. Semua ini demi kamu, agar kamu bisa hidup dengan wanita itu, pikir Marlon. Marlon merasa pandangannya kabur, semua jejak kehidupannya berputar seperti video di benaknya. Ibunya, ayahnya, keluarganya, teman dan sahabatnya, dan Raul. Benar kata orang, jika sudah dalam keadaan hidup dan mati, semua rekaman kehidupan akan dimainkan.

Tembakan pertama, gagal..

Jantung Marlon seakan berhenti, sampai kapan ini akan berlangsung, bagaimana jika 3 tembakan itu semuanya gagal? Akankah Raul yang akan mengorbankan dirinya, tidak!! hanya aku yang bisa menyelamatkan Raul, pikir Marlon. Ia memejamkan matanya, menunggu untuk tembakan kedua dari Marty yang sedang memainkan Russian roulette ini.

Tembakan Kedua, gagal…

Nafas Marlon semakin sesak, ia tak mau mati sia – sia, tapi juga tak mau Raul mati di hadapannya, toh ia tak mencintai Marlon sebagaimana Marlon mencintai Raul. Bagi Marlon, Raul adalah hidup dan matinya, apapun akan ia lakukan agar Raul tetap hidup dan bahagia. Sekali lagi, Marty menarik pelatuk. Ia berbisik di telinga Marlon, “ …aku mencintai kamu sayang, lebih baik kamu mati daripada hidup tanpa bisa mencintai aku..” cinta yang gila, sakit jiwa!! Pikir Marlon, mulutnya sudah tak bisa mengatai Marty lagi. Apakah aku akan berbuat hal yang sama pada Raul jika ia tak bisa mencintai aku?

Tembakan Ketiga.. sepertinya Marty sedikit mengulur – ngulur waktu.

Marlon memejamkan matanya dan menunggu rasa sakit itu menembus keningnya. Tiba – tiba ia merasakan ada seseorang menarik tubuhnya dan…

Daaarrr…

Suara tembakan membahana, memekakkan telinga.

Perlahan Marlon membuka matanya, apa ini? Apa aku mati? Kemana rasa sakit yang kutunggu itu?

Ia melihat Raul bersimbah darah di pangkuannya, Tidak!! darah mengalir deras dari dada Raul yang berlubang karena peluru.

“ Tidakk… Raul, seharusnya aku yang mati, bukan kamu!! Ini semua salahku!!..” Marlon meracau, entah kekuatan dari mana, ia meregang dan melepaskan ikatan tangannya untuk memeluk Raul.

“ …sebenarnya aku pun mencintai kamu Marlon..” bisik Raul pelan. “ Tapi aku.. hanyalah seorang pengecut yang tak mampu mengatakan.. kalau..kalau.. “ nafasnya tercekat. “ …kalau aku mencintai kamu sejak pertama kali kita bertemu..”

Marlon hanya bisa menangis kencang, ia merasa hidupnya tak ada artinya lagi, Raul.. oh Raul yang aku cintai, pikirnya, hanya ia yang bisa membuatku hidup.

Marlon memeluk Raul kencang, merasakan bahwa pelukan Raul telah melemah, seiring matanya yang mulai menutup dan nafasnya yang tak lagi tersengal, tapi juga tak lagi bernyawa. Raul telah mati mengorbankan dirinya demi aku, pikir Marlon. Keringat dingin mencucuri tubuhnya. Ia menoleh mencari sosok Marty, ia melihat lelaki itu diam tersudut di pojok gudang, tersengal melihat pemandangan di hadapannya. Marlon beranjak meninggalkan tubuh Raul untuk menghampiri Marty. Sepucuk pistol dan beberapa peluru berserakan, terjatuh keluar dari saaku jaket Marty. Perlahan, Marlon mengambil pistol itu, memasukkan peluru – peluru kedalam selongsong pistol hinggal penuh, dan..

Tanpa membiarkan Marty banyak bicara, Marlon menembakkan pistol itu kearah kening Marty. Marty.. mati..

Dua orang yang pernah menjadi cinta dalam hidup Marlon, kini telah terbujur kaku dan bersimbah darah..

Kini Marlon telah mati rasa, ia menghampiri tubuh Raul, meraup genangan darah Raul dengan kedua tangannya dan membasuh wajahnya dengan darah Raul. Ia ingin merasakan kehangatan terakhir dari Raul yang tak akan lagi ia rasakan.

Marlon kembali mengambil pistol milik Marty.. sebelah tangannya mengenggam pistol, dan sebelahnya lagi mengenggam tangan Raul.

Suara tembakan kembali mengegelegar di gudang gelap itu.

“..kita akan selalu bersama, Raul…”


-Fin-