Thursday, March 11, 2010

The Last Day Of Jakarta [EPILOG]


EPILOG

Jakarta, 21 February 2013.

Tiada kata yang bisa menjelaskan situasi kota ini selain, Hancur. Tsunami yang menghantam seluruh area kota tak terkecuali, telah membuat pemandangan yang mengerikan dan menjijikkan. Gedung – gedung tinggi hancur, air laut masih mengalir kencang, menenggelamkan kota ini dalam sisa –sia nafasnya. Mayat – mayat bergelimpangan, sebagian mengapung di tengah aliran air yang semakin deras. Sebagian tergantung gantung bahkan tersangkut di jendela gedung – gedung tinggi. Jakarta yang begitu dibanggakan penduduknya, kini tak ubahnya seperti kota mati, dingin dan penuh aroma kematian.

Mia tergeragap, kepalanya pusing, dahi dan kepalanya terluka. Ia berusaha bangun dan menggerakkan kakinya, tapi tak bisa, kakinya terjepit pilar yang jatuh menimpanya. Mia berusaha menariknya, berhasil, tapi kakinya tak lagi bisa digerakkan. Mia melihat sekelilingnya sambil berusaha mengingat – ingat apa yang sudah terjadi. Tadi ia hanya meninggalkan kantornya sebentar untuk merokok sebentar di lantai atas. Hingga tiba – tiba ia melihat gelombang air laut setinggi langit menimpa gedungnya. Dan disinilah ia, terluka, dan nyaris lumpuh.

Sambil merangkak kesakitan Mia bergerak menuju arah cahaya yang datang dari sela – sela reruntuhan ini. Seharusnya ia berada di lantai 30 gedung ini, tetapi ketika ia melihat keluar, rasanya tak percaya melihat tinggi air sudah hampir merendam seluruh kota ini. Mia tak menangis, ia memang tak bisa menangis, air matanya sudah habis ketika ayah dan ibunya meninggal dulu, airmatanya juga sudah tak bisa mengalir ketika seorang pemabuk merenggut kehormatannya dengan paksa. Pemabuk yang ia panggil paman. Kenangan menjijikkan itu bermunculan dikepalanya seperti video.

Malam itu, tepat 2 bulan setelah kematian kedua orangtuanya akibat kecelakaan di jalan tol, Mia yang baru berusia 18 tahun saat itu, tengah menangis di kamarnya. Hingga tiba – tiba pintu kamarnya yang terkunci didobrak oleh seseorang. Pamannya yang sudah bertelanjang dada, berdiri didepan pintu kamarnya, dengan wajah merah penuh nafsu menjijikkan. Sia – sia Mia berusaha berteriak atau lari, rumah itu kosong, hanya ada ia dan pamannya yang ditugaskan oleh keluarga besar Mia untuk menjaga Mia. Di tengah tangis dan amarahnya, Mia berusaha meronta, tapi semua pertahanannya tak berguna, tubuh pamannya yang begitu besar seperti monster yang sedang melahap mangsanya. Kehormatannya terenggut begitu saja. Meninggalkan tangis dan amarah yang meluap. Lelaki itu pergi entah kemana setelah kejadian malam itu. Alasan ini pula yang membuat Mia tak pernah berhubungan dengan lelaki manapun.

Isi perut Mia seakan meronta keluar, mengingat kejadian naas itu, ia memuntahkan isi perutnya, dengan rasa jijik dan amarah yang kembali membakar.

Rasanya begitu sepi, sepertinya Mia adalah satu – satunya manusia yang selamat dalam bencana ini. Ia menatap sekelilingnya berharap ada seseorang, yang juga selamat. Tapi tak ada, tak ada tanda – tanda kehidupan, hanya mayat – mayat yang bergelimpangan, menimbulkan bau busuk yang menusuk hidung Mia. Ia muntah, lalu merasa lapar, teramat lapar, perutnya terasa sakit.

Mia merangkak menuju sebuah reruntuhan pilar yang menjulur keluar, tepat diatas lautan air yang sudah mulai tenang. Matanya mulai mencari, mencari seseorang, siapapun itu, mulutnya merintih menahan sakit di pergelangan kakinya. Sebelum mencapai ujung, ia berhenti untuk melihat kakinya yang patah, jejak darah berlumuran di reruntuhan, Mia merasa lemas, rasanya ia sudah terlalu banyak mengeluarkan darah.

Tiba – tiba seberkas sinar menyilaukan muncul dari langit, sinar yang semakin membesar, membuat pemandangan mengerikan di sekitar Mia menjadi memutih, Mia menjerit, matanya seakan terbakar. Sinar mataharikah ini? Mengapa begitu membutakan mata? Inikah akhir dunia ini? Mia merangkak sembari menarik kakinya yang patah, rasa sakit sudah tak ia hiraukan, hingga sampailah Mia diujung sebuah tiang beton besar yang menjorok keluar.

Mia menengadahkan kepalanya, mencoba melihat langit diantara sinar yang Maha terang yang hampir membakar matanya. Nihil, langit begitu terang seperti terbakar, Mia mencoba berbaring tertelungkup, tenaganya sudah hampir mencapai batasnya.

Dari kejauhan Mia mendengar suara ledakan besar, seakan membuat telinganya nyaris tuli, Mia mencoba bangkit dan melihat apa yang terjadi, ledakan dahsyat itu tampak mendekat, dan semakin mendekat. Mia gemetar, inilah akhirnya, semuanya hancur, dan inilah akhir hidupnya. Tepat sebelum ledakan itu mencapai dirinya, Mia menjatuhkan dirinya kedalam lautan api dibawahnya.

“Tuhan, terimalah aku dalam pelukanmu..”

Hari itu, 21 February 2013, meleset beberapa bulan dari ramalan kuno bangsa Aztec yang meramalkan akhir dunia akan terjadi di tahun 2012, adalah akhir dunia, akhir dari segala kesenangan dan penderitaan. Semuanya hancur, luluh lantak, seakan Tuhan memutuskan untuk menghancurkan semuanya untuk membangun bumi baru yang lebih baik.

Sang Akhir akan datang, bersiaplah..

The Last Day Of Jakarta III

The Last Day Of Jakarta

Chapter III : Shiva & Krishna

Shiva merapatkan sarung yang melindungi tubuhnya, cuaca dingin di kota ini sudah sampai di taraf yang menakutkan. Terlebih ia harus menerima kenyataan bahwa ia harus tidur di lantai dingin sebuah masjid, bersama berpuluh bahkan beratus pengungsi yang ikut menumpang di masjid ini karena rumah tinggal mereka musnah dihantam banjir besar yang melanda daerah mereka kemarin malam. Termasuk rumah petak yang disewa Shiva, yang hanya cukup untuk dirinya sendiri, berikut kecoak dan tikus yang tak lagi membuatnya menjerit – jerit ketakutan setiap malam. Sudah biasa, pikir Shiva waktu itu. Sebagai seorang perempuan muda yang cantik, dan bertubuh indah bak model, kepindahan Shiva ke lingkungan ini mengundang decak kagum dan juga cemoohan dari para penghuni kampung tersebut. Ada yang bilang, kok mau – maunya wanita secantik Shiva tinggal dirumah petak di gang becek di sudut kota Jakarta ini? Bahkan ada yang mengira Shiva adalah artis sinetron yang sedang mendalami peran sebagai orang miskin. Tak sedikit pula, ibu – ibu yang haus gossip murahan, mengecapnya sebagai pelacur yang sedang dikejar – kejar istri pelanggannya, hingga harus bersembunyi di daerah ini. Semuanya Shiva telan mentah – mentah, dan senyumnya tetap tersungging saat melewati kerumunan orang yang selalu ada di depan rumahnya. Terkadang ia menangis tersedu – sedu di tengah malam meratapi nasibnya yang berubah 180 derajat ini, dari putri seorang pengacara tangguh yang kaya raya hingga terusir keluar dari istananya dan harus tinggal di pemukiman kumuh ini.

Tubuh Shiva yang menggeletar meradang ketika memikirkan perempuan sundal itu, namanya Nora, perempuan liar, murahan, Shiva membencinya. terlebih ketika ia mendengar suara tawanya yang seperti setan. Sayangnya, pelacur inilah yang dinikahi ayahnya untuk menggantikan mendiang ibunda Shiva yang meninggal setahun yang lalu. Pelacur ini yang berusaha menggantikan posisi ibunya, Shiva bahkan tak sudi makan satu meja dengan sundal ini, Shiva bahkan tak pernah mengindahkan ajakan ayahnya untuk makan bersama Nora. Ketika ayahnya meninggal, semua mimpi buruk Shiva menjadi kenyataan, belumlah tanah kuburan ayahnya kering, Nora sudah membawa pria lain masuk dalam rumahnya, pria yang Shiva ketahui sudah memiliki istri dan anak, pria yang juga bekerja di perusahaan yang sama dengan Shiva, namanya Armand. Lelaki bodoh dan perempuan sundal itu kemudian mengusirnya dari rumah, tanpa alasan, hari itu Shiva mendapati barang – barangnya sudah berserakan di teras rumah, dan satpam yang belum pernah ia lihat menyuruhnya untuk mengambil barang – barangnya dan pergi secepatnya. Shiva seperti disambar kilat saat itu, gamang dan sakit hati. Lalu disinilah ia, tidur bertumpuk – tumpuk dengan penghangat seadanya di sebuah masjid, bersama pengungsi lainnya.

Shiva beranjak bangun, meraih tasnya untuk mengambil sebatang rokok, menyalakannya dan mengambil ponselnya. Tangannya bergetar mencari nama seseorang di ponselnya. Krishna, kekasihnya yang sudah lama tak ia hubungi, mungkin ia sudah bersama perempuan lain, pikir Shiva. Lelaki tampan ini memiliki tubuh yang besar, berbulu dan emiliki berahi yang tinggi, bagai binatang buas, setiap pertemuan mereka, selalu berakhir dengan Shiva yang terseok – seok berjalan pulang dengan tubuh memar dan sakit di selangkangannya. Tapi Shiva menikmatinya, Shiva mencintai Krishna walaupun ia sering menyiksa Shiva. Mungkin aku sudah gila, mungkin juga mengidap sado masochist, pikir Shiva lagi. Ditekannya tombol ponsel untuk menghubungi Krishna.

Tuuuut..tuuut…

“ Halo Shiva?”

“ Halo Krish.. kamu lagi dimana?”

“ aku di rumahku di cibubur va, kamu dimana? Ga kenapa – napa?” suara Krishna mulai terdengar terputus – putus.

“ aku ngga apa – apa krish, Cuma kena banjir aja, kamu bisa jemput aku krish?”

Mendadak pertanyaan itu membuat Krishna terdiam.

“ halo..halo.. krish?” tanya Shiva lagi, perasannya kurang enak.

“emm.. jemput kamu ya.. emmm…gimana ya?” Krishna tergagap. Selintas Shiva menangkap suara lain yang ada di belakang suara Krishna, suara laki – laki.

“ kamu lagi sama siapa sih Krish?” amarah mulai mewarnai suara Shiva

“ sama temenku kok va, makanya aku ga bisa jemput kamu..” suaranya terdengar gugup.

“…. Siapa sih babe?... ayo peluk aku lagi..” suara pelan di belakang suara Krishna itu terdengar oleh Shiva, nafasnya meradang. “ Siapa itu Krish??!!” bentak Shiva marah.

“ ehmm.. temenku va..., sori hp ku low bat nih, aku tutup ya va, sorry..” Krishna menutup teleponnya. Shiva tertegun menahan amarah. Bajingan!! Lelaki itu sekarang tak hanya tidur dengan wanita, tapi juga pria! Shiva merasa mual. Sialan!!!

Shiva berusaha kembali tidur, tapi amarahnya membuatnya tak bisa memejamkan mata, rasanya Shiva ingin menembaknya saat itu juga. Biar dia mati, lelaki tak tahu diuntung, seru Shiva dalam hati.

Keesokan harinya banjir telah surut, hujan telah berhenti, Shiva bergegas berangkat ke tempat kerjanya, tak ada waktu untuk pulang ke rumah, pikirnya. Ia sekarang bekerja di sebuah perusahaan sebagai customer service. Seharusnya karirnya sudah meningkat, tapi dua minggu lalu, ketika Nora mengusirnya dari rumah, Armand pun berkonspirasi dengan atasannya untuk memecat Shiva. Namanya di black list di sejumlah mailing list, hingga akhirnya Shiva harus memulai lagi dari awal. Bergegas Shiva menaiki tangga menuju kantornya yang berada di kawasan Sudirman. Sayup – sayup mulai terdengar letusan senjata, dan teriakan – teriakan para pengunjuk rasa yang meneriakkan aspirasi mereka, yang mulai terdengar basi oleh Shiva. Telinganya sudah mulai terbiasa mendengar letusan senjata, matanya sudah mulai terbiasa melihat kerusuhan, dan hidungnya sudah mulai terbiasa mencium bau darah. Bergegas ia menaiki lift. Ada dua orang lelaki tampan didalamnya, yang satu Shiva sudah mengenalnya, pak Adrian, yang berkantor di depan kantornya, dan yang satunya wajahnya tampak familiar, tapi ada perasaan tak enak berkelebat di dada Shiva.

Shiva terkejut melihat kantornya yang kosong, tak ada karyawan satupun yang masuk kerja hari ini kecuali dirinya dan sang resepsionis, Mita.

“Mit.. pada kemana nih orang – orang?” tanyanya pada Mita

“ Pada kebanjiran kayanya va, macet dimana – mana pula..” jawab Mita

“ Pak Simon juga ga masuk hari ini?” tanya Shiva

“ Nggak, katanya ada keluarganya yang ketembak demonstran kemarin va,” jawab Mita santai.

Shiva bergidik, bagaimana bisa ia menjawab pertanyaan sesantai itu, duh walaupun Shiva sudah terbiasa dengan semua ini, tetap saja jawaban Mita membuatnya merinding.

Tanpa terasa, jam makan siang sudah tiba, Shiva merasa perutnya kelaparan, ia tak sempat sarapan tadi pagi. Ia menggamit tasnya dan bergegas menuju resepsionis untuk mengajak Mita makan siang. Ternyata meja Mita sudah kosong, tak ada tas yang biasa ia tinggalkan, tak ada kertas – kertas yang biasanya berserakan, kosong, seakan Mita tak pernah masuk kantor hari ini. Aneh, pikir Shiva. Sudahlah aku sekalian pulang saja, pikirnya, toh tak ada orang pula di kantornya hari ini.

Setibanya di luar, kericuhan semakin menjadi, bau darah semakin menusuk di hidung Shiva. Langit semakin gelap, dan udara dipenuhi asap dan amarah para demonstran yang semakin menggila. Shiva mulai berlari menjauhi gedung menuju jalanan. Ia berlari menuju daerah Monas, yang cukup jauh dari kantornya, entah tenaga apa dan alasan apa yang membuat Shiva terus berlari, hingga hak sepatunya patah, Shiva tersadar. Apa yang membuatnya berlari seperti ini? Tiba – tiba sekelebat wajah yang ia kenal baik melintas di sela kerumunan demonstran. Krishna! Mendadak amarah yang sudah hampir mendingin di dada Shiva, kembali meledak.

“Krishna!!! “ teriaknya penuh amarah sambil berlari menghampiri Krishna yang tampak panik. Ada seorang lelaki memeluknya, sialan! Ternyata lelaki yang dilihatnya tadi pagi di lift adalah pasangan mesum pacarnya!

“kemana kamu tadi malam? Kamu tahu apa yang terjadi sama aku??? Siapa dia krish?” teriaknya membabi buta. Takkan ada orang yang peduli betapapun aku berteriak, pikir Shiva. Kota ini sudah di ambang kehancuran!

“…aku sudah ngga bisa sama kamu lagi va, aku sekarang memiliki Wishnu..” ujar Krishna terbata.

Shiva meradang, “ Kamu gila Krish!! Setelah apa yang aku kasih sama kamu selama ini? Sinting! Sakit jiwa kamu!!” nafas Shiva tersengal, amarahnya membuat dadanya sakit. Satu – satunya warisan yang luput diambil Nora, adalah penyakit jantung bawaan ini.

“ Udahlah va, dia udah ga mau sama kamu, dia udah punya aku, lagian sekarang ini sebaiknya kamu cari jalan pulang, bisa mati kamu disini..” Wishnu yang sedari tadi hanya diam, tiba – tiba menimpali.

“ Diaammm!!! Aku ga ada urusan sama kamu, dasar anjing!!” amarah Shiva seakan sudah tak tertahan lagi.

Shiva merogoh tasnya mencari sebuah benda pemberian ayahnya yang selalu ia bawa kemanapun, rapi terbungkus kain khusus, agar tidak terdeteksi metal detector kemanapun Shiva pergi.

Shiva, dunia ini kejam nak, kamu tahu kan, papa ini banyak musuh, banyak sekali orang yang ingin membunuh papa, dan keluarga papa, Cuma kamu yang papa punya, lindungi diri kamu sendiri dengan pistol ini sayang, akan tiba waktu yang tepat buat kamu untuk menggunakannya…. Pasti akan tiba sayang..

Kata – kata ayahnya tersebut terngiang – ngiang di telinga Shiva, seiring tangannya yang mengacungkan pistol dan menodongkannya ke arah Krishna dan Wishnu.

Krishna.. “ nafasnya tercekat “ … kamu pilih aku, atau dia?”

“ Shiva, kamu apa – apaan sih?? Turunin pistol itu va!!” seru Krishna panik.

“ kamu pilih dia, dan aku akan bunuh kamu!!” teriak Shiva, mukanya memanas dan matanya terasa pedih.

“ kamu ga akan berani va! Kamu mencintai aku, kamu ga mungkin bunuh aku, dan aku ga akan pernah balik sama kamu, aku mencintai Wishnu!!” ejek Krishna

“ Kamu ga akan berani va..!” tambahnya lagi.

“ O ya? Berarti kamu ga kenal aku selama ini Krish…” ujarnya pelan. Ia menarik pelatuk pistolnya dan menembakkannya kearah kepala Krishna. Rasanya waktu disekeliling Shiva seakan melambat, sehingga ia bisa melihat peluru itu perlahan menembus kening Krishna. Semua sudah berakhir sekarang.

“ KRISHNAAA…!!!” teriak Wishnu sambil memeluk tubuh Krishna yang tewas seketika.

“ Kalau kamu masih mau hidup, lebih baik kamu lari Wishnu..” ujar Shiva dingin. Wishnu menggeletar, tangannya melepaskan tubuh Krishna lalu lari tergopoh – gopoh. Dasar banci pengecut! Kutuk Shiva dalam hati. Sakit dadanya semakin menjadi. Dari kejauhan Shiva bisa melihat sekelilingnya mulai gelap, air setinggi gedung dengan kecepatan tinggi mulai menelan pemandangan dihadapannya.

Shiva berlutut, mencium bibir dingin Krishna, dan menutup matanya yang terbelalak. “aku cinta kamu sayang… sampai ketemu ya..”

Dada Shiva seakan meledak, jantungnya perlahan mulai melemah, seiring ombak tsunami yang berada di atas kepalanya, tapi Shiva tak berlari, ia berdiri, membiarkan air itu menghancurkan tubuhnya, semuanya sudah berakhir.

“ Ayah.. Ibu.. aku pulang..” bisiknya lirih

Wednesday, March 10, 2010

Aku Ingin / Bermimpi

Aku Ingin..
Melihatmu dari kejauhan, menikmati setiap senyum dan canda tawamu
Memandangimu berjam – jam bahkan berhari – hari dan membawamu kedalam mimpiku
Memilikimu dalam hatiku, dan membawamu pulang ke dalam relung jiwaku..

Aku Ingin
Memelukmu hingga nafas ini seakan menjadi milikmu
Mencium bibir lembutmu, membiarkanmu menelanjangiku..
Mengerang, menggeliat, meraung dalam kenikmatanmu..

Aku Ingin
Sepotong cinta dari dalam hatimu
Seulas senyum dari bibirmu
Segenggam hangatnya jemari tanganmu..

Aku Ingin
Seluruh hidupku hanya untukmu
Seluruh ragaku hanya untuk kau sentuh..
Seluruh jiwaku untuk milikmu

Aku Ingin
Pergi meninggalkan semua ini denganmu
Memulai hidup yang baru, hidupku yang hanya untukmu
Hingga sang ajal, merenggutku dan mempertemukan kita kembali

Aku Ingin
Merasakan indahnya rasa cinta yang kudamba..
Merasakan indahnya melayang karena cinta
Merindu, menari dalam kesemuan hidup yang tercipta untuk cinta

Aku Ingin
Melepasmu pergi tanpa rasa kehilangan
Membiarkanmu pergi jauh ke tanah baru tanpa rasa ingin mati
Membiarkan cinta matimu memelukmu dan membuatmu melupakan aku

Aku Bermimpi
Bahwa semua permainanmu ini akan berhenti
Bahwa kau akan menyadari sebesar apa cinta yang membakar dadaku untukmu
Bahwa kau akan mencintaiku dan hidup hanya untukku

Aku Ingin
Lepas dari jerat hatimu, cintaku
Karena tubuh dan jiwa ini semakin mencandumu
Karena kepala ini hanya memikirkanmu dan membuat hidupku hancur
Lepaskan aku cinta..
Takkan kubiarkan lagi dada ini bergemuruh ketika melihat wajahmu
Takkan kubiarkan lagi luka menganga ini terus kau sirami dengan garam

Aku Ingin
Tidur nyenyak tanpa memikirkanmu di malam - malamku

Aku Ingin
Terbangun di pagi hari dan melupakan tentang keberadaanmu sepenuhnya

Aku Ingin
Meninggalkanmu wahai cintaku, cahaya matahariku..
Walau bara ini takkan pernah padam
Selamanya.. sampai ku mati..

Jangan/Salahkan

Jangan salahkan aku karena aku seperti ini
Bukankah ini yang mereka mau ketika mereka meneriakiku "banci!!" ?

Jangan salahkan aku yang menantang semua orang
Bukankah dulu aku selalu menunduk dan menuruti keinginan semua orang?

Jangan salahkan aku yang ingin membicarakan semua isi hatiku
Bukankah dulu aku selalu dilarang untuk membicarakan isi hatiku karena dianggap kurang ajar?

Jangan salahkan aku yang hanya ingin meneriakkan kebenaran yang ada
Bukankah kejahatan akan selalu kalah pada akhirnya?

Jangan salahkan aku yang terlalu mencintaimu
Bukankah cinta tak pernah salah?

Jangan salahkan aku yang tak bisa menangis
Bukankah air mataku sudah habis mengalir di masa kecilku?

Jangan salahkan aku yang terkadang ingin mengakhiri semuanya
Bukankah dunia ini akan musnah juga pada akhirnya?

Pelatuk



Keringat dingin membasahi kening Marlon, nafasnya tersengal – sengal seakan tak ada udara mengalir melalui jalur pernafasannya. Tangannya mengepal kencang, mencoba melepaskan ikatan tali yang mengekang erat kedua belah tangannya. Tak ada jalan keluar, pikirnya, tak ada jalan untuk kembali mengulang semua ini dari awal. Lututnya terasa sakit, ikatan di kakinya memaksanya untuk menekuk lututnya rapat – rapat. Perlahan kakinya mulai terasa kesemutan dan mati rasa. Ingin berteriak rasanya, tapi lidahnya seakan kaku dan kelu. Airmatapun tak lagi mengalir, ini sudah jauh melampaui rasa takutnya, ini…

Braakkkk!

Dalam kegelapan, Marlon mendengar suara pintu didobrak kencang, membuat sinar yang menyilaukan dari ruangan lain masuk dan membutakan mata Marlon, betapa tidak, sudah dua hari ia berada dalam kegelapan gudang ini, matanya hanya bisa melihat dalam kegelapan, bukan cahaya menyilaukan seperti ini. Marlon memicingkan matanya, mencoba melihat siapa yang datang. Pasti lelaki sialan itu, lelaki yang menculiknya dari kantor dan melemparnya ke gudang laknat ini dua hari yang lalu.

Hari itu, Marlon hanya ingin pulang ke apartemennya dan menemui Raul, sahabat sekaligus orang yang diam – diam ia cintai selama ini. Sudah lima tahun belakangan ini, hidup Marlon kembali berwarna sejak kehadiran Raul yang tampan, sedikit jahil dan penuh semangat itu. Marlon mengenalnya sejak Marlon nyaris tertabrak mobil Raul saat ia hendak menyebrang menuju apartemennya. Saat itu Marlon hampir melabrak Raul, tapi wajah tampan Raul yang tampak sangat menyesal itu meluluh lantakkan amarah Marlon seketika. Ternyata Raul tinggal di apartemen yang sama, dua lantai diatas apartemen Marlon. Sejak saat itu, hidup Marlon tak lagi sepi, hampir setiap hari ia bertemu Raul untuk sekedar minum kopi atau mengobrol sambil tertawa keras – keras. Marlon mulai jatuh cinta, tapi ia takut kalau Raul sampai tahu, ia akan meninggalkan Marlon karena jijik atau takut. Marlon hanya menyimpan perasaan ini dalam hati, mengubahnya menjadi rasa syukur karena Raul selalu ada disana, walaupun hanya sebagai sahabat.

Malam itu adalah hari ulang tahun Raul, Marlon sangat gembira ketika Raul mengajaknya makan malam di apartemennya. Marlon sudah menyiapkan kado buat Raul, sebuah jam tangan mahal yang dulu pernah diinginkan Raul.

Tapi semuanya gagal dan buyar, sejenak sebelum menyeberang jalan, sepasang tangan besar membekap mulut Marlon, dan ketika sadar, dia sudah ada di sebuah gudang gelap yang entah ada dimana.

“ Selamat malam sayang… apa kabar?”

Jantung Marlon berdetak kencang, suara itu.. tidak mungkin, pikirnya. Marlon tidak bisa melihat wajah lelaki itu, karena gudang ini begitu gelap. Tapi ia begitu mengenal suara serak itu, suara yang pernah menemani hari – harinya dulu. Tapi.. kenapa? Apa – apaan ini?

“ Kok kamu diam? Lapar ya?” ujar suara itu lagi. Nadanya membuat Marlon merinding.

“ …Mar..Marty??” tanya Marlon ketakutan.

“ .. ah, akhirnya kamu ingat aku juga, sayang, kangen ngga sama aku?” ujar Marty sambil menyalakan sebuah lampu tempel.

Kini semuanya terlihat jelas, gudang kotor ini, tumpahan makanan yang membuat gudang ini berbau busuk, bangkai tikus, tumpukan kardus yang entah isinya apa, dan Marty. Lelaki bertubuh besar ini terlihat begitu menyeramkan, tangannya yang kekar, janggut menutupi wajahnya dan tato tengkorak terukir seram di lengan kanannya. Inikah Marty sekarang? Apa yang terjadi? Pikir Marlon. Dulu Marty adalah kekasihnya, 3 tahun mereka menjalin hubungan dan putus begitu saja saat Marlon melarikan diri dari rumah Marty. Marty terlalu posesif, Ia sering mengurung Marlon dalam rumah dan pergi entah kemana, dan ketika ia kembali ia akan meniduri Marlon dengan beringasnya, meninggalkan carut marut di punggung dan selangkangannya. Marlon berhasil kabur dan meninggalkan kota itu dan memulai hidup baru di kota lain. Marty tak pernah mencarinya, sampai sekarang..

“ Lepasin aku Marty, apa – apaan kamu??!” teriak Marlon, amarahnya mulai datang lagi.

Marty tertawa terbahak – bahak. “ …Kenapa, kamu kangen seseorang ya?”

“ Apa maksud kamu??!”, perasaan tak enak mulai menyelinap dalam hati Marlon

“Hmmm.. siapa namanya dia? Oh iya, Raul.. kangen sama dia?” senyum sinis tergambar di wajah Marty. Tidak! pikir Marlon, jangan – jangan.. dari mana ia tahu?

“ Diam kamu Marty!! Jangan kamu bawa – bawa Raul, apa mau kamu dari aku?? Masih mau siksa aku lagi?? 3 tahun kamu siksa aku, masih belum cukup??!” Nafas Marlon tersengal, amarah dan bau busuk membuat nafasnya lebih pendek. Perutnya terasa mual.

“ Yang nyiksa kamu tuh siapa? Aku sayang kok sama kamu, aku tergila – gila sama kamu sayang..” Marty mendekatkan wajahnya pada wajah Marlon. Bau minuman berhembus ke hidung Marlon, membuatnya muak, ia meludahi wajah Marlon.
“ Sialan kamu!!!!” Plaaaakkkkk!! Sebuah tamparan keras menghantam wajah Marlon, darah mulai mengalir dari bibirnya. Marlon tak mampu lagi berteriak, rasa kesal, takut dan jijik bercampur menjadi satu.

“ Kalo kamu kangen sama si Raul sialan itu, nih puas – puasin deh kangen kamu!!” Tiba – tiba Marty menarik tangan seseorang dan melempar tubuhnya ke samping Marlon. “ Raul!!!” jerit Marlon, ketika melihat wajah orang itu. Tubuh Raul terikat dan wajahnya lebam, pasti karena dipukuli oleh Marty.

“ Raul.. kamu ngga apa – apa?” ujar Marlon khawatir
“ Ngga apa – apa Marlon, kamu berdarah… “ ujar Raul perlahan, nafasnya pendek – pendek.

“ Alaaaaahh!!! Udah – udah!!” teriak Marty kesal.

“ Sekarang, kamu berdua ikutin permainan aku.. “ Marty menarik sepucuk pistol dari balik jaketnya.

“ Oke, siapa mau berkorban buat yang lainnya? “ Marty menyeringai. “ Dalam pistol ini hanya ada satu peluru, aku akan mencoba menembakkannya tiga kali saja, jika setelah 3 kali tembakan tidak ada peluru keluar maka kamu bisa bebas, gimana, menarik bukan?” tawanya menbahana, membuat Marlon semakin ketakutan. Tapi ia tak bisa melihat Raul berkorban untuk dirinya, ia begitu mencintai Raul, tak akan ada seorang pun yang bisa membuat Raul terluka!

“ Aku.. aku saja yang ikut permainan ini, jangan bawa – bawa Raul!” cetus Marlon.

“ oooh… so sweet.. ternyata kamu memang cinta mati ya sama Raul ini, tapi kamu tau ngga? Siapa Raul sebenarnya…” Marty merogoh saku jaketnya dan melempar beberapa foto ke wajah Marlon. Ketika foto – foto itu menyentuh lantai, barulah Marlon bisa melihatnya, foto Raul sedang bermesraan dengan seorang wanita. Hati Marlon terasa seperti ditusuk, tapi bukankah ia sudah tahu kalau Raul itu seorang lelaki normal?

Marlon terperangah, rasa ketakutannya mulai mencapai puncak, Marty benar – benar gila! Sesaat Marlon meronta – ronta hebat, lalu sadar, bahwa ia sudah tak mungkin lagi lari dari tempat ini, disampingnya, Raul juga tampak sangat ketakutan, wajahnya tak lagi ceria, hanya lebam dan air mata yang mulai mengalir di pipinya. Ini keterlaluan, pikir Marlon.

Marty menarik tubuh Marlon dan membiarkannya berlutut di hadapan Marty. Pistol itu ditempelkan di kening Marlon yang gemetar. Jantungnya berdetak kencang. Aku takut, pikir Marlon. Benar – benar takut. Air mata merebak di matanya. Marlon mengigit bibirnya, berusaha menahan air matanya.
Marlon memejamkan matanya saat Marty menarik pelatuk pistolnya. Nafasnya tersengal. Ia merasakan pandangan iba Raul. Semua ini demi kamu, agar kamu bisa hidup dengan wanita itu, pikir Marlon. Marlon merasa pandangannya kabur, semua jejak kehidupannya berputar seperti video di benaknya. Ibunya, ayahnya, keluarganya, teman dan sahabatnya, dan Raul. Benar kata orang, jika sudah dalam keadaan hidup dan mati, semua rekaman kehidupan akan dimainkan.

Tembakan pertama, gagal..

Jantung Marlon seakan berhenti, sampai kapan ini akan berlangsung, bagaimana jika 3 tembakan itu semuanya gagal? Akankah Raul yang akan mengorbankan dirinya, tidak!! hanya aku yang bisa menyelamatkan Raul, pikir Marlon. Ia memejamkan matanya, menunggu untuk tembakan kedua dari Marty yang sedang memainkan Russian roulette ini.

Tembakan Kedua, gagal…

Nafas Marlon semakin sesak, ia tak mau mati sia – sia, tapi juga tak mau Raul mati di hadapannya, toh ia tak mencintai Marlon sebagaimana Marlon mencintai Raul. Bagi Marlon, Raul adalah hidup dan matinya, apapun akan ia lakukan agar Raul tetap hidup dan bahagia. Sekali lagi, Marty menarik pelatuk. Ia berbisik di telinga Marlon, “ …aku mencintai kamu sayang, lebih baik kamu mati daripada hidup tanpa bisa mencintai aku..” cinta yang gila, sakit jiwa!! Pikir Marlon, mulutnya sudah tak bisa mengatai Marty lagi. Apakah aku akan berbuat hal yang sama pada Raul jika ia tak bisa mencintai aku?

Tembakan Ketiga.. sepertinya Marty sedikit mengulur – ngulur waktu.

Marlon memejamkan matanya dan menunggu rasa sakit itu menembus keningnya. Tiba – tiba ia merasakan ada seseorang menarik tubuhnya dan…

Daaarrr…

Suara tembakan membahana, memekakkan telinga.

Perlahan Marlon membuka matanya, apa ini? Apa aku mati? Kemana rasa sakit yang kutunggu itu?

Ia melihat Raul bersimbah darah di pangkuannya, Tidak!! darah mengalir deras dari dada Raul yang berlubang karena peluru.

“ Tidakk… Raul, seharusnya aku yang mati, bukan kamu!! Ini semua salahku!!..” Marlon meracau, entah kekuatan dari mana, ia meregang dan melepaskan ikatan tangannya untuk memeluk Raul.

“ …sebenarnya aku pun mencintai kamu Marlon..” bisik Raul pelan. “ Tapi aku.. hanyalah seorang pengecut yang tak mampu mengatakan.. kalau..kalau.. “ nafasnya tercekat. “ …kalau aku mencintai kamu sejak pertama kali kita bertemu..”

Marlon hanya bisa menangis kencang, ia merasa hidupnya tak ada artinya lagi, Raul.. oh Raul yang aku cintai, pikirnya, hanya ia yang bisa membuatku hidup.

Marlon memeluk Raul kencang, merasakan bahwa pelukan Raul telah melemah, seiring matanya yang mulai menutup dan nafasnya yang tak lagi tersengal, tapi juga tak lagi bernyawa. Raul telah mati mengorbankan dirinya demi aku, pikir Marlon. Keringat dingin mencucuri tubuhnya. Ia menoleh mencari sosok Marty, ia melihat lelaki itu diam tersudut di pojok gudang, tersengal melihat pemandangan di hadapannya. Marlon beranjak meninggalkan tubuh Raul untuk menghampiri Marty. Sepucuk pistol dan beberapa peluru berserakan, terjatuh keluar dari saaku jaket Marty. Perlahan, Marlon mengambil pistol itu, memasukkan peluru – peluru kedalam selongsong pistol hinggal penuh, dan..

Tanpa membiarkan Marty banyak bicara, Marlon menembakkan pistol itu kearah kening Marty. Marty.. mati..

Dua orang yang pernah menjadi cinta dalam hidup Marlon, kini telah terbujur kaku dan bersimbah darah..

Kini Marlon telah mati rasa, ia menghampiri tubuh Raul, meraup genangan darah Raul dengan kedua tangannya dan membasuh wajahnya dengan darah Raul. Ia ingin merasakan kehangatan terakhir dari Raul yang tak akan lagi ia rasakan.

Marlon kembali mengambil pistol milik Marty.. sebelah tangannya mengenggam pistol, dan sebelahnya lagi mengenggam tangan Raul.

Suara tembakan kembali mengegelegar di gudang gelap itu.

“..kita akan selalu bersama, Raul…”


-Fin-

Tuesday, December 02, 2008

Here I Am

It's been a while since i wrote my last story on my blog, so busy lately, didn't even have any inspiration to write new stories. Although, so many things going on in my life lately, so many changes.. i found love.. i lost it for a while.. but today i found it again on the same person i fell with 2 months ago... i bet life is playing games on me right now, that's okay, i will follow the rockiest road to find love, i found it, but i just need to be sure..

Time grew me up with so many experience, pain, joy and tears that never came out..

Aku berharap dia adalah orang yang tepat.. yang bisa membimbingku ke arah yang seharusnya..

Aku berharap dia mencintai aku.. walau tak sebesar cintaku padanya..

I got over someone that I loved for 10 years, and now I found another..

Here I am.. just in love, wouldn't want anything in the world but you..

Friday, October 10, 2008

Sang Pencabut Nyawa



1 New Message
(Roberto) +62816667XXX
Malem, lagi apa kamu?

+62818210XXX
Lagi tiduran aja di kost, kangen kamu..

+62816667XXX
Aku juga kangen kamu, besok kita ketemu ya?

+62818210XXX
Oke, tempat biasa kan? See you

+62816667XXX
I Love You..

+62818210XXX
Love you even more..

Sms itu menutup malam sepiku. Sms ke 12 hari ini, belum lagi kami selalu chatting berjam – jam di depan computer, di sela – sela kesibukan kami yang menggila setiap harinya. Roberto, nama itu kini mengisi hari – hariku setahun belakangan, kedekatan kami seakan mendobrak batasan dunia maya, juga batasan norma. Aku seakan kehilangan semangat ketika beberapa bulan yang lalu, ia tiba – tiba tak membalas semua smsku, aku panik dan khawatir, ternyata ia lupa membawa ponselnya hari itu. Ponsel. Betul – betul sebuah keajaiban dunia yang sangat kusyukuri, sebuah alat yang bisa menyebarkan kasih sayang, walaupun terlarang.

Ia sudah menikah, dari awal aku sudah mengetahuinya, tapi aku seakan buta karena cinta, aku tak peduli jika istrinya membaca sms – sms romantis, bahkan terkadang panas dariku, aku tak peduli jika wanita itu menangis sepanjang malam menanti kedatangan suaminya yang tak kunjung pulang karena masih berkubang peluh di kost murahanku, aku tak peduli jika setiap tengah malam ia pulang hanya untuk memunggungi istrinya dan mendengkur setelah lelah mengadu berahi bersamaku. Cinta, memang berbahaya, aku sadari itu, tapi aku tak ingin mundur, aku ingin terjerat cinta bersama Roberto.

Sore ini aku akan bertemu Roberto, kali ini hanya untuk makan malam bersama, karena wanita sialan itu merengek pada Roberto agar ia bisa pulang lebih cepat malam itu. Kepusingan akan pekerjaanku hari itu seakan terbayar lunas, ketika aku melihat Roberto sudah duduk manis di meja café favorit kami.

“ Hai, udah lama? Sorry ya mas, aku kejebak kerjaan tadi..” Sapaku sambil tersenyum
“ You’re always worth to wait kok dik..” ujarnya sambil tertawa kecil, sungguh manis, sungguh tampan, seakan aku ingin menerjang dan menciuminya saat itu juga. Tapi tidak. Not in public, at least not in Indonesia.

Kami memesan makanan, seperti biasa kami terlibat pembicaraan seru, Roberto sangat konyol, dia bisa membuatku terbahak – bahak sampai orang yang ada di sebelahku menyingkir karena terganggu. Dia juga bisa serius hingga kadang aku terlibat perdebatan seru dengannya. Tetapi, topic pembicaraan hari itu agak berbeda.

“ Dik.. gimana perasaan kamu sama aku? “ tanya Roberto, ia tampak serius sekali. “ Kamu masih perlu nanya? Kamu kan tau aku cinta mati sama kamu..” ujarku sambil tersenyum.
Roberto mendesah dan melanjutkan “ Istriku udah tau tentang kita..”
Rasanya potongan fillet mignon yang ada dimulutku hendak mencelat keluar mendengar kata – katanya. Bagaimana bisa?
“ … Kok bisa? Dia baca sms – sms aku buat kamu?”
“ Iya, dan juga ada orang yang bilang kalau aku dan kamu sering keluar masuk hotel”
“ Kalau mau jujur, aku engga peduli mas, baguslah kalo dia udah tau”

Kulihat wajah Roberto memerah karena marah, ini kali kedua ia terlihat seperti itu, dulu ia pernah memakiku habis – habisan karena aku menelepon ke rumahnya. Kekasih gelap tak boleh menelepon ke rumah, katanya.

“ Gimana bisa kamu begitu?? Aku orang Batak dik, kalau sampai seluruh keluargaku tahu, aku bisa dibuang dari keluargaku tanpa uang sesen pun!”
“ Mas, kita bisa hidup bersama mas, kita bisa cari rumah untuk kita berdua, dan saling menghidupi!”
“ Absurd !, aku mencintai kamu dan istriku, kamu tahu itu, tapi aku tak bisa kehilangan keluargaku dik..”
“ Jadi mau kamu gimana? Kita putus, begitu??!” teriakku kalap dan putus asa.
“ Mungkin sementara kita ngga usah ketemu dulu dik..”
“ Kamu menyerah begitu aja? Aku udah kasih semuanya buat kamu, dan kamu menyerah? You’re giving up on us!”
“ Yang nyerah siapa? Aku Cuma mau kita berhenti bertemu sementara sampai suasananya reda antara aku dan istriku!” Roberto mulai murka.
“ Sampai kapan? Kamu pengecut mas!” teriakku. Aku benar – benar marah.
“ Terserah kamu lah..” Roberto benar – benar meninggalkanku. Rasanya aku ingin meloncat dari balkon restoran saat itu juga. Shit! Shit! Shit!

Gontai aku berjalan menuju kamar kostku yang pengap itu.
“ malem pak.. baru pulang?” sapa seseorang dari belakangku. Ia membawa sapu dan kain pel.
“ Iya, kamu pembantu baru disini? ..” tanyaku
“ betul pak, nama saya Yono.” Ujarnya
“ Oh, oke, saya ke kamar dulu ya Yon..” ucapku, lesu.
“ Baik, silakan pak..”

Aneh juga, setahun aku tinggal disini, tak pernah sekalipun aku melihat adanya pembantu, Ibu Maria, empunya tempat kost ku selalu mengerjakan semua kebutuhan kami sendiri, terkadang dibantu ketiga anaknya. Mungkin ia sudah lelah, dan membutuhkan pembantu.

Kuhempaskan tubuh penatku di tempat tidur, sambil memikirkan kejadian tadi, Putus? PUTUS? Mendadak aku terserang panik, aku tak pernah siap ditinggalkan Roberto, tidak setelah 1 tahun hubungan indah yang kami jalani, tidak tidak, ini tak boleh terjadi. Udara panas Jakarta seakan naik lagi beberapa derajat di kamarku, rasanya panas sekali, hingga aku kehabisan nafas. Dengan nafas memburu, dan amarah yang membludak aku berpakaian dan berlari keluar kamar. Tiba didepan gerbang rumah aku terhenti, pandanganku kabur, air mataku membanjir tak terkontrol, aku mencintai dia, rasanya ini tak adil bagiku, perempuan sialan itu bisa memiliki Roberto semaunya, sementara aku hanya mendapat sisa, sisa tubuh Roberto, sisa waktu Roberto, dan sisa – sisa lainnya.
“ ..Perlu bantuan pak? “ Tiba – tiba saja Yono sudah ada dibelakangku, melihatku dengan pandangan yang berbeda dari biasanya. Ada bungkusan plastik hitam digenggamannya.
“ eh.. ngga Yon, aku ngga apa – apa.” Ujarku sambil mengusap airmataku.
“ Ini buat bapak, siapa tau bisa berguna..” ucap Yono sambil menyerahkan bungkusan plastik hitam itu ke tanganku. Ia tersenyum misterius.
Entah kenapa aku tak ingin menanyakan isi kantong plastik itu, tanpa banyak bicara lagi aku langsung berlari menuju jalan raya dan memanggil taksi. Aku harus ke rumah Roberto malam ini.

“ .. Permata Hijau pak.. “ ujarku gugup pada supir taksi yang baru kunaiki
Ia mengangguk. Sekilas ia melihat ke arahku, melihat kegugupanku, untungnya dia tak banyak bertanya. Tak henti – hentinya aku mengelap keringat dinginku, padahal taksi itu cukup dingin. Perjalanan itu terasa sangat lama bagiku. Aku tak bisa berpikir jernih, di kepalaku hanya ada Roberto, yang mungkin sedang meniduri istrinya malam ini. Perempuan itu, perempuan yang beruntung bisa memiliki Roberto seutuhnya, tidak seperti aku yang hanya bisa menikmati kebersamaanku dengan Roberto di malam – malam tertentu saja. Vivian, itu nama perempuan itu, cantik, tapi tanpa ambisi, kerjanya hanya mengurus rumah, memasak dan mengurus taman. Padahal ia lulusan sebuah universitas di Amerika Serikat. Hari begini, masih ada saja wanita yang menolak berkarier demi mengurus rumah dan suami, padahal mereka belum punya anak, seharusnya Vivian bisa tetap berkarier sesuai pendidikannya yang setinggi langit itu. Mungkin itu juga alasan Robert mencintai Vivian, sudah cantik, pandai mengurus rumah tangga pula. Emosiku seakan menggila ketika aku membayangkan kebersamaan mereka. Harusnya aku tak benci Vivian, harusnya aku membenci Robert, yang dengan mudahnya berpindah dari satu tempat tidur ke tempat tidur lainnya, dengan mudahnya pula ia merayuku bahwa ia mencintaiku dan juga istrinya. Bajingan itu, bajingan tampan sialan yang telanjur aku cintai.
Mendadak aku teringat akan bungkusan hitam yang diberikan Yono tadi, kira – kira apa isinya ya? Kurogohkan tanganku ke dalam plastik itu, aku merasakan sesuatu yang begitu dingin, kutarik tanganku dan mencoba melihat isinya dengan lebih jelas. Seketika aku tergeragap, isinya pistol.

“ .. bapak baik – baik saja pak?” sopir taksi itu mengagetkanku.
“ emhh.. eh.. saya ngga apa – apa pak, masih lama pak ?” ujarku sambil menutup kantong plastik itu dengan panik. Kenapa Yono memberiku pistol?
“ sebentar lagi sampai pak..” jawab supir taksi itu.

Akhirnya aku sampai di rumah Roberto. Hujan besar mulai turun membasahi tubuhku, tapi aku tak peduli. Rumah yang besar dan mewah, wajar saja ia tak rela meninggalkan istrinya demi aku yang bukan siapa – siapa ini. Dengan geram aku membuka pintu gerbangnya yang ternyata tak dikunci. Kulangkahkan kakiku dengan gugup kearah pintu rumahnya, tanganku mengenggam pistol yang entah sejak kapan sudah terlepas dari plastik pembungkusnya. Keringatku mengucur deras, kepalaku mendengung hingga langkahku terhuyung. Mendadak pintu itu terbuka lebar dan perempuan itu muncul di depan mukaku. Vivian! Aku tak siap menghadapinya saat itu walaupun aku berniat menghabisi nyawanya malam itu. Matanya nanar, seperti orang yang kehilangan kesadaran.
“ Mau apa kamu kesini??! “ teriaknya kencang disela petir dan hujan yang menggemuruh.
“ Aku mau bertemu Roberto! “ seruku tak kalah kencang
“ Kamu bener – bener ngga tau malu ya? Dia suami aku! Dan kamu udah berusaha merebut dia dari aku!” Vivian mulai menangis.
“ Merebut? Tanya Roberto siapa yang duluan memulai hubungan ini! Suami kamu yang brengsek!”
“ Pergi kamu! Homo sialan! Pergi!!” Vivian mulai kehilangan kendali. Aku menubruknya untuk masuk kedalam rumahnya. Vivian tersungkur terdorong tubuhku yang membabi buta.
“ Roberto!! Keluar kamu! Robertoo!!” teriakku putus asa memanggil nama kekasihku.
Tak ada jawaban. Ada sesuatu yang aneh yang terjadi di rumah yang gelap gulita itu, udaranya terasa lebih menyesakkan dari udara di luar. Kulihat Vivian hanya terduduk di pintu dengan terengah – engah, tanpa suara, hanya merintih tak jelas.

Kulihat pintu dapur menyala. Aku tahu ini dapurnya karena Roberto pernah mengajak aku ke rumah ini sewaktu istrinya keluar kota menengok ibunya yang sedang sakit keras. Perempuan bodoh itu mungkin tak tahu, meja dapur yang biasa ia pakai memotong – motong makanan untuk suami tercintanya, telah kami pakai sebagai tempat pelampiasan nafsu kami.

Aku berlari menuju dapur, berharap menemukan Roberto disana, aku menjejakkan kakiku dan terpeleset jatuh, tanganku meraba cairan merah yang meleleh di lantai dapur Vivian. Tanganku bergetar hebat dan rasa mual menguasai diriku. Darah! Aku bergerak mundur sampai aku melihat sesosok tubuh yang terbujur kaku di lantai dapur, sebilah pisau menancap di dadanya, Roberto! Rasa mual menghilang berganti kepanikan, aku mengguncang – guncang tubuhnya, berharap ia masih hidup dan bernafas, tapi tidak, Roberto sudah mati, aku menjeritkan namanya, air mataku membanjiri wajah Roberto bercampur dengan darah yang belum berhenti mengalir dari tubuhnya. Tiba – tiba aku merasakan sesuatu yang dingin di pelipisku. Aku tersadar, pistol yang sedari tadi aku genggam, telah hilang entah kemana. Vivian kini menempelkan pistol itu di tengkukku.
“ Tuh, Roberto sekarang boleh buat kamu, “ ucapnya dingin
“ ..k-kenapa Vivian? Kenapa kamu membunuh Roberto? Kamu mencintainya bukan?” ucapku terbata – bata, kakiku rasanya tak mampu lagi menopang berat tubuhku, Robertoku, Roberto yang sangat kucintai kini telah menjadi seonggok tubuh tanpa nyawa.
“ Ya aku memang mencintai dia, lebih dari apapun, semuanya aku berikan padanya, karirku, hidupku, segalanya hanya buat Roberto” ucapnya datar, nafasnya yang dingin berhembus di tengkukku.
“ Tapi dia memilih kamu, lelaki sialan yang seharusnya tidak ada dalam kehidupan kami.” Vivian semakin mendorong pistol itu di tengkukku, hingga aku mengerang ketakutan. Roberto memilihku? Pengakuan Vivian itu makin membuatku menjerit sejadi – jadinya. Seharusnya aku tak menyuruhnya memilih, seharusnya aku sadar diri akan posisiku yang hanya dapat mengecap setetes cintanya untukku. Robertoku..
“ Sekarang, siap – siap untuk menyusul Robertoku… di cerita manapun juga, selingkuhan sialan kayak kamu ngga mungkin menang..” ujarnya dingin, aku bisa mendengar dengan jelas, pelatuk pistol itu sudah ditariknya. Vivian tertawa kecil, yang terdengar seperti tawa kuntilanak bagiku. Perempuan ini sudah gila!

Kepanikanku mencapai puncaknya, dengan kecepatan yang aku sendiri tak mengerti darimana datangnya, aku mencabut pisau yang tertancap di dada Roberto dan menancapkannya di pinggang Vivian, tepat sebelum pistol itu meletus dan menyerempet pelipisku. Perempuan itu menjerit kencang sebelum akhirnya terduduk diam, mati. Darah mulai meleleh dari pinggangnya dan membasahi lantai dapur yang sudah terlebih dahulu dilumuri darah Roberto. Sakit luar biasa kurasakan di pelipisku, mataku sudah tak dapat melihat dengan jelas, aku terhuyung – huyung berusaha mencapai pintu dapur untuk keluar dari kegilaan ini. Susah payah aku merangkak menahan sakit dengan lumuran darah yang sudah menutupi pandanganku. Di pintu depan akhirnya aku bisa mengumpulkan kekuatan untuk berjalan menuju gerbang, sampai tiba – tiba aku mendengar letusan pistol dibelakangku, aku menoleh dan melihat Vivian mengarahkan senjata itu di hadapanku. Dengan pisau yang masih menancap, ia masih bisa menodongkan pistol itu dan tertawa lirih.
“ ..aku yang menang Chris.. aku yang menang.. “ ucapnya lirih. Aku tak mengerti, tiba – tiba kurasakan sakit yang teramat sangat datang dari perutku, kuraba dan aku merasakan ada cairan panas yang keluar dari perutku, darah. Ia sudah menembakku. Mulutku mulai memuntahkan darah segar, aku jatuh tertelungkup. Lalu gelap. Dingin.

Samar – samar dalam kegelapan aku melihat sosok Yono, tetapi ia tampak lebih pucat, mengenakan jubah hitam dan memegang kapak besar.

“ Pistolnya berguna juga kan pak?” tanyanya, dingin.

Bandung, October 4, 2008 23:18

Cinta dalam Niskala



Nama dan wajahnya tanpa sengaja kulihat di situs friendster sebulan yang lalu. Wajah yang begitu indah dengan nama yang begitu aku suka. Menakjubkan bagiku bahwa situs ini bisa memudahkan orang mencari jodoh atau pacar tanpa harus repot – repot mendaftar ke biro jodoh. Lagian sangatlah bodoh dan tidak mungkin jika aku menulis ke biro jodoh salah satu Koran, dengan mencantumkan ‘seorang laki – laki, 26 tahun, mapan, matang, dewasa, mencari calon suami yang perhatian, baik hati berusia diatas 30 tahun. Not going to happen in this country!
Anyway, entah kenapa aku begitu tergila – gila melihat wajahnya. Ia tidaklah sempurna, tetapi wajahnya begitu mempesona, tampan, mata yang agak sipit, dan jenggot kebiruan yang menghiasi wajahnya di semua foto yang ada di profilenya. Kuberanikan diri, menulis pesan murahan (karena aku tak tahu harus menulis apa lagi) “boleh kenalan ? “ dan (untungnya) dia membalas dengan ‘ boleh banget’.

Umurnya 33 tahun, dan dia sudah menikah, ketika kami sudah terbiasa bertegur sapa di Yahoo! Messenger, aku beranikan diri bertanya, apakah dia mencintai istrinya, dan ia pun mengiyakan sembari menambahkan kalau dia sangat mencintai istrinya, tetapi masih membutuhkan pelukan pria di malam – malamnya. Harusnya aku membenci dia saat itu juga, aku membutuhkan cinta, bukan hanya kepuasan nafsu semata, aku butuh pelukan tidak hanya saat aku telanjang, tetapi pelukan disaat aku berpakaian lengkap, ditempat umum jika perlu. Tapi, aku tidak membencinya, aku bahkan semakin menggilainya. Kuminta nomor ponselnya, dan mengirim pesan singkat, walaupun sebagian besar tak pernah dia balas. Aku bahkan mengirimkan fotoku dengan pose menantang untuknya, sesuai dengan yang ia minta. Aku merasa seperti manusia murahan yang mengiba cinta pada orang yang sebagian dirinya sudah dimiliki orang lain. Tapi, aku biarkan perasaan itu menguap, karena aku mencintainya.

Cukup aneh bahkan untuk orang yang aneh seperti aku, mencintai seseorang hanya dengan melihat fotonya. Hanya dengan menerima kata – kata indah yang ia ketik di messengerku, hanya dengan pesan – pesan singkat sederhana yang ia torehkan di ponselku. Aku tergila – gila padanya.

Aku ingin sekali bertemu dengannya, hanya makan malam saja cukup, tak perlu seks sesudahnya, walaupun dadaku berdesir setiap kali aku melihat fotonya yang baru keluar dari kolam renang, rasanya dada yang bidang itu seperti menarik – narik aku untuk mencumbuinya, dan bibirnya seakan berteriak untuk diciumi dan melumat bibirku tanpa ampun. Aku ingin menyerahkan diriku padanya, seutuhnya, jika ia bisa mencintai aku. Cinta, walaupun rasanya sudah muak mendengar kata itu, aku masih membutuhkan cinta dalam hidupku, untuk menerangiku, menuntunku dan menggumuliku.

Satu bulan ini aku berusaha agar ia menemuiku, tapi gagal karena ia terlalu banyak acara diluar kantor. Seringkali ia bilang kalau ia tak sabar untuk bertemu denganku, tapi nyatanya dia hanyalah seorang lelaki yang agak egois. Bukankah semua lelaki begitu? Aku tetap sabar sampai detik ini. Aku sangat yakin bahwa ia adalah seseorang yang sempurna untukku. Tak terbersit sedikitpun keraguan bahwa ia adalah orang yang salah. Aku menggilainya.

Saat itu aku hanya ingin dia, hanya dia, walaupun aku tak ingin merebutnya dari orang yang ia tiduri setiap malam. Aku hanya ingin secuil cintanya untukku, sedikit hangat tubuhnya untukku dan seulas senyumnya untukku. Hanya itu. Sampai saatnya tiba, aku akan menunggunya disini, ditengah kesendirian dan kesakitanku yang perlahan mulai memudar sejak aku menemukannya.

Saat itu pun tiba…

Hari itu tak biasanya ia meneleponku, bukannya selama ini ia tak mau meneleponku, aku yakin itu karena ia tak punya cukup waktu untuk itu, atau ia tak mau istrinya mengetahui bahwa suaminya sedang main gila dengan seorang lelaki. Tapi hari ini lain, mungkin birahinya sudah memuncak akibat foto yang aku kirim beberapa waktu yang lalu, mungkin juga ia sangat ingin bertemu denganku untuk mengetahui apakah aku nyata, sebagaimana akupun bertanya – tanya, apakah ia indah dan sempurna seperti yang aku bayangkan.

Ia meneleponku untuk membuat janji bertemu denganku hari ini. Kencan! Aku seperti melayang hari itu, semua pekerjaanku, janji dengan klien – klienku terasa begitu menyiksa, hari terasa begitu panjang karena aku menunggu tenggelamnya matahari untuk melihat sang pujaan jiwa. Janji kamu hari itu bertempat di sebuah restoran favoritnya di Plaza Senayan, aku tak begitu sering makan disana, karena kupikir itu terlalu mahal untuk ukuran kantongku yang sering merengek minta diisi. Kukirim pesan singkat untuk mengetahui keberadaannya saat itu, ternyata ia masih terjebak macet di semanggi. Aku pun mencari meja, dan memesan secangkir teh untuk meredakan kegugupanku.Kurasakan jantungku mulai berdetak kencang, kucoba menyalakan laptop ku dan membuka sebuah hidden folder yang berisikan foto – foto yang ia kirim padaku. Lagi – lagi aku tertegun melihat foto – foto itu, my charming king, too bad he already had his queen. Sudah sepatutnya bukan, lelaki setampan dia memiliki seorang queen, instead of a drag queen seperti aku? Aku sedikit terkikik, mendengar pikiranku sendiri.

“ Sammy?”

Panggilan itu membuatku tergelagap, Ya Tuhan! Ia berada tepat di hadapanku saat ini, Sang Raja tampanku, Tristanku, Romeoku. Wajahnya lebih indah dari apa yang biasa aku lihat di komputerku, badannya tinggi besar, senyumnya lebar dan pandangan matanya membuatku tak bisa berbicara saat itu.

“…Mm.. Raditya?” tanyaku, Bodoh, jelas – jelas orang ini memang Raditya yang sudah kutunggu – tunggu sejak tadi.
Pertemuan kami saat itu berlangsung cukup lama, kami bercanda, mengobrol mulai dari hal – hal sepele seperti acara TV kesukaannya, gadget favoritnya hingga masalah politik yang sebenarnya aku sebal membahasnya, tapi bagiku rasanya topik mengenai kotoran kambing pun akan terasa sangat menarik untuk dibahas bersamanya. Malam mulai beranjak, kami pun memutuskan untuk melangkahkan kaki kami menuju sebuah hotel di kawasan Wahid Hasyim, kebetulan istrinya sedang keluar kota, jadi ia bisa bebas menginap bersamaku malam itu. Harusnya aku merasa kasihan pada istrinya, disaat ia sedang bekerja di luar kota, suaminya malah memadu birahi bersamaku. Akal sehatku sudah tak bekerja dengan sehat lagi malam itu, aku hanya ingin bersamanya, apapun yang ia inginkan, akan kuberikan padanya.

Kami bercinta malam itu, walaupun aku tak yakin dia mencintaiku, tapi aku jelas – jelas mencintainya bahkan sebelum kami bertemu. Malam itu aku menyerah kalah, ketika bibirnya yang indah mulai menyentuh leher, kuping hingga perutku. Aku hanya bisa mendesah ketika jemari tangannya yang kokoh mulai menjelajahi bagian paling pribadiku. Bahkan aku menyerah ketika ia memaksa ingin memasuki diriku, aku menjerit dalam sakit dan nikmat ketika ia berada dalam diriku, hingga akhirnya tubuh berpeluh itu terkulai lemas diatas tubuhku. Aku mencintainya. Aku menggilainya.

Setelah hari itu, kami mulai membuat jadwal pertemuan, jadwal bercinta tepatnya, selalu dimulai dengan makan malam dan diakhiri dengan peluh dan pesanan room service di tengah pagi buta. Kadang ia memelukku sampai pagi, tapi tak jarang pula ia mengecup keningku dan meninggalkanku di tengah malam seperti pelacur. Tapi aku bahagia, karena ia selalu meneleponku di pagi hari, untuk menanyakan keadaanku. Aku selalu menjawab kalau aku baik – baik saja dan aku mencintainya. Walaupun ia tak pernah membalas pernyataan cintaku, aku tak mengeluh, karena aku tahu ia memiliki perasaan yang sama terhadapku. Cinta tak harus diucapkan di bibir, terkadang bisa diungkapkan dengan berbagai macam cara, tidur bersama misalnya.
Hari itu, tepat 6 bulan sejak pertemuan kami yang pertama, tepat 6 bulan pula sejak ia mengoyak dan menindih tubuhku. Aku mulai berpikir terlalu jauh tentang hubungan kami, aku mulai menuntut lebih dari hubungan seks setiap jumat malam. Aku ingin perhatian lebih, aku menginginkannya lebih dari apapun di dunia ini. Aku mulai bertanya kenapa ia tak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku, dan ia selalu mengalihkan pembicaraan. Aku teringat dulu diawal perkenalan kami, aku pernah menanyakan apakah ia mencintai istrinya, dan ia menjawab lugas bahwa ya, ia mencintai istrinya. Aku mulai sering mengirimkan pesan singkat lewat ponselku, hanya untuk bertanya, dia sedang ada dimana, sudah makan atau belum, dan pertanyaan – pertanyaan posesif lainnya. Ia tak pernah membalas.

Suatu malam, di sebuah kamar hotel, tepat setelah kami berdua terengah – engah dalam kubangan keringat kami, ponselku berdering, di seberang sana, ada suara wanita yang terdengar dingin, marah dan terluka. Sang ratu telah mengetahui semuanya, sang ratu ingin sang raja berhenti menemuiku, sang ratu ingin aku pergi dari kehidupannya dan sang raja. Kututup ponselku dan menyadari bahwa air mataku telah menggenang, air mata yang selama ini tak pernah mengalir semenjak ayahku meninggal 10 tahun yang lalu. Kuguncang tubuh Raditya dengan putus asa, kuciumi bibir dan tangannya sambil meraung kencang, aku tak ingin kehilangan dia, aku tak ingin malam – malamku tanpa kehadiran dia, aku tak ingin berhenti jadi gila karena menginginkannya. Kuceritakan apa yang terjadi, dan kusuruh ia pulang menemui istrinya. Ia hanya terdiam, tanpa bicara apa – apa langsung berpakaian, mengecup keningku dan meninggalkanku sendirian malam itu. Aku merangkak menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutku.

Hari itu, tepat 7 hari setelah kejadian malam itu, 7 hari pula Raditya tidak menghubungiku, ponselnya tak pernah lagi aktif, messengernya pun begitu. Aku merasa hampa dan terbuang, kecewa dan terlunta. Insomnia mulai merayapi malam – malamku, hanya rokok dan berbotol – botol air putih menjadi sahabat sejatiku saat itu. Hingga malam itu, aku sudah tak tahan lagi, aku bergegas mencari alamat rumahnya, aku harus bertemu dengannya.

Taksi yang kutumpangi berhenti di depan sebuah rumah besar, di kawasan Jakarta Barat. Kulewati gerbang rumahnya yang setengah terbuka, setengah berlari menuju pintu rumah Raditya. Dengan gemetar kuketuk pintu itu perlahan, dan seraut wajah cantik muncul dari balik pintu. Wanita itu begitu cantik dan elegan, berperawakan ramping, dengan sepasang kaki jenjang yang mengintip di balik gaun tipisnya. Cantik, dingin dan terluka. Kuutarakan maksud kedatanganku untuk menemui Raditya, dan memperkenalkan namaku. Wanita itu meradang ketika mendengar namaku, ia menerjang, memukul, mencaci dan mencakariku seperti hewan buas yang terluka. Aku tersentak dan merasakan tubuhku sangat lemas tanpa bisa melawan semua pukulan dan caci makinya. Hingga akhirnya ia kelelahan dan meninggalkanku, aku hanya bisa terbaring di depan pintu rumah Raditya dengan luka – luka berdarah di wajah, lengan dan dadaku. Aku tak mampu lagi berdiri, rasa sesal dan sakit hatiku menggemuruh di dadaku. Tapi aku tak mampu bangkit dan membalas semua perlakuannya padaku. Memang seharusnya ini yang terjadi, aku sudah merusak kebahagiaan wanita ini, tapi bagaimana dengan kebahagiaanku? Apakah ada yang peduli? Seraut wajah indah yang amat kukenal datang menghampiri, tapi tampak pucat.
Ia meraih tubuhku, memeluk dan menangis sejadi – jadinya. Ia minta maaf, dan akhirnya ia mengatakan sebuah kalimat yang kuimpikan selama ini, Ia mencintaiku. Tapi semuanya sudah berakhir, ia tak mungkin meninggalkan istri dan anak – anaknya, ia sudah bersumpah di bawah Al – Quran bahwa ia tak akan pernah menemui aku lagi. Aku dianggap hina, nista dan haram buat Raditya.

Hari ini, sampai detik ini, aku masih mencintainya, tapi aku telah melepaskannya, aku tak menyesal, sakit yang kudera akibat siksaan dari istri Raditya, tak sebanding dengan luka menganga yang ada didalam jiwaku, luka yang perlahan mulai menutup dengan ketulusan, cinta sejati memang tak harus memiliki, cintaku pada Raditya tak akan pudar. Hanya waktu yang bisa mengikis cintaku padanya. Walaupun selamanya aku akan terjebak dalam niskala karenanya. Raditya, satu – satunya cinta dalam hidupku. Selamanya.


Bandung, October 3, 2008 00:55

Wednesday, October 08, 2008

Patience My Dear.. Patience..

giliran aku udah hampir nyerah karena ga bisa ketemuan kamu, giliran aku udah hampir capek karena kamu selalu ga bisa punya waktu buat aku, kamu sms aku ngajak ketemuan, pas aku lagi ga bisa.. aku masih ngarepin kamu banget, ga ada lagi orang yg aku harepin selain kamu saat ini.. I couldn't even think other person better than you.. wonder if there are any solution for us?

Wednesday, September 10, 2008

Why Me? Why?

Suasana hati gue belakangan ini bisa dibilang cukup berantakan, emosional, ga mudeng kalo diajak ngobrol. Satu waktu gue bisa seneng banget, tau tau langsung berubah jadi mellow seketika. Seperti tadi malem, gue begitu merasa hopeless sama kehidupan (cinta) gue. Kenapa dari dulu sampe sekarang gue ga pernah bisa memiliki orang yang gue cintai, sebanyak apapun pengorbanan gue, segila apapun gue mengejar mereka.
Gue ga mau banyak, gue Cuma pengen dicintai, that’s it. Gue Cuma pengen merasakan cinta yang sebenarnya, senangnya, sedihnya sampe sakitnya cinta. Gue tau gue punya keterbatasan emosi, gue ga bisa nangis sejak bokap gue meninggal, sesedih apapun gue, seterharu apapun gue, airmata ini ga bisa mengalir lagi. Sekarang ini bisa dibilang gue sedang memasuki fase jatuh cinta yang paling aneh, gue ga pernah ketemu orang ini, gue Cuma chatting dan liat fotonya di friendster. Tapi entah kenapa gue belingsatan ga tentu arah, seakan emang orang ini adalah orang yang tepat buat gue? Seakan gue udah mengenal orang ini sejak dulu? Gue ga pernah ngerasain hal seperti ini. Ini terlalu gila, gimana kalo dia ga seperti yang gue harapkan? Atau yang paling parah, gimana kalo gue ga cukup baik buat dia kalo kita ketemu nanti, gue tau gue terlalu dramatis dalam menghadapi hal ini, terlalu berlebihan, tapi ada orang yang bilang kalo ini wajar, yang ga wajar kalo gue ga bisa mengendalikan emosi dan hati gue.
I don’t know.. Gue Cuma berandai, kenapa gue ga ketemu orang ini sejak dulu, sejak dia masih single mungkin? Nasib orang ga ada yang tau bukan? Suatu hari gue Cuma ngotak ngatik friendster gue dan tiba – tiba gue termehek mehek sama orang ini. Gue Cuma takut kalo ini bakal berakhir Cuma dalam satu malam aja, gue takut gue ga cukup baik buat dia, gue takut gue ga bakal pernah memiliki tempat di hatinya. Gue Cuma berdoa, mudah – mudahan gue bisa ketemu dia, atau at least malam ini dia mau nelpon gue untuk yang pertama kalinya.
Gue emang selalu bodoh, gue mencintai, gue memberi, tanpa pernah mendapatkan cinta itu buat gue sendiri. Gue lelah sendirian, gue pengen ada orang yg memperhatikan gue walaupun Cuma sekadar telpon atau sms.. gue udah capek sakit hati. Kalau gue boleh berteriak sama Tuhan, kenapa gue sih? Kenapa orang lain begitu mudah mendapatkan orang yang tepat, kenapa mereka begitu mudah melepas satu cinta dan mendapatkan cinta yang lain dalam waktu sekejap mata? Hari ini gue pasrah… mudah – mudahan Tuhan akan mempertemukan gue dengan sang cinta hari ini, bagaimanapun caranya…

Jakarta September 11, 2008, 9:15 AM

Begitu Salah Begitu Benar










aku bahagia dengar kata cintamu

Tapi aku sedih menerima kenyataan

bahwa tak hanya diriku yang menjadi milikmu

bahwa tak hanya diriku yang menemani tidurmu

bahwa tak hanya diriku ada di hatimu selamanya

ini begitu salah tapi ini juga

begitu benar untuk aku yang dilanda

cintamu yang terus membakar aku

Cintamu yang akhirnya membunuhku

aku bahagia dengar kata cintamu

tapi aku sedih menerima kenyataan

bahwa tak hanya diriku yang menjadi milikmu

bahwa tak hanya diriku yang menemani tidurmu

bahwa tak hanya diriku yang slalu ada di hatimu selamanya

bahwa tak hanya diriku yang menangis

saat kau terpisah dengan ku

bahwa tak hanya diriku yang terbunuh

saat kau ada bersamanya

ini begitu salah tapi ini juga begitu benar untuk

aku yang dilanda cintamu yang terus membakar aku

cintamu yang akhirnya membunuhku

ini begitu salah tapi ini juga begitu benar untuk

aku yang dilanda cintamu yang terus membakar aku

cintamu yang akhirnya membunuhku

Ini begitu salah tapi ini juga begitu benar untuk

aku yang dilanda cintamu yang terus membakar aku

cintamu yang akhirnya membunuhku ...





*[aku yang dilanda cinta yang aneh, yang terus melanda, berharap untuk segera bertemu denganmu...]*

Tuesday, September 09, 2008

The Last Day of Jakarta

[ Ritta ]


Ritta memacu mobil SUV nya dengan nafas menderu dan jantung berdebar. Pikirannya terus tertuju pada anaknya yang demam tinggi di rumah. Juga suaminya yang.. ah aku harus cepat pulang! Pikirnya seraya menginjak pedal gas.
Jalan menuju rumahnya yang berada di utara Jakarta, yang biasanya lengang kini tampak carut marut, penuh dengan manusia – manusia yang begitu marah dan mengamuk. Dikelilingi asap tebal yang mengepul dari mobil – mobil yang dibakar membuat Ritta melebarkan matanya menghadapi jalan raya.

Mudah – mudahan kerusuhan tidak sampai ke daerah rumahnya, pikiran itu terus diulang – ulangnya dengan panik. Matanya basah mengingat kondisi Ashlan yang ditinggalkannya dan suaminya Armand yang sudah satu minggu lebih tidak pulang. Beruntung atasannya Pak Adrian, mengizinkannya pulang lebih cepat.

Armand.. ya Armand yang begitu ia cintai, begitu ia kagumi sepanjang umur pernikahan mereka telah mendua. Ritta memergokinya sedang memasuki sebuah hotel bintang lima di kawasan mega kuningan, ketika ia sedang dengan senangnya menimang hadiah ulang tahun yang baru dibelinya untuk Armand. Ia teringat saat itu badannya serasa membeku dan lututnya terasa sangat lemas hingga ia terduduk di trotoar setelah mobil Armand dan perempuan itu memasuki pelataran lobby hotel tersebut. Beruntung salah satu satpam hotel itu membantu dirinya yang hampir membeku di trotoar dan membantunya memasuki mobilnya yang terparkir tak jauh dari hotel itu. Ia bergegas memacu mobilnya menuju gedung kantornya dan menangis tanpa suara di dalam mobilnya. Hatinya begitu terguncang melihat Armand, Armand yang setia, Armand yang merupakan menantu favorit ayahnya, Armand yang selalu hadir disisinya saat ia sedih.

Sejak hari itu Armand seakan menghilang, tak masuk kantor, dan juga tak pulang ke rumah. Ritta telah kehabisan air mata dan tenaga untuk mencari suaminya. Ia pasrah, sampai suatu hari ia memergoki Armand untuk kedua kalinya di sebuah mall. Amarah dan kekecewaan yang memuncak, membuatnya berani memanggil suaminya yang sedang duduk di sebuah coffee shop, tertawa – tawa dengan seorang perempuan cantik berambut merah.
“ Mas Armand?..” ucap Ritta bergetar menahan tangis seraya mendekati meja Armand.
“ Rit..Ritta?” Armand tergelagap terkejut melihat kedatangan istrinya.
“ Gila kamu mas, satu minggu aku nyari kamu, satu minggu aku ga tidur nungguin kamu.. sekarang kamu ada disini, sama perempuan lain!! Otak kamu ada dimana mas??” seru Ritta tertahan, emosinya tidak membuatnya menjerit atau menampar Armand, yang begitu ingin ia tampar sejadi – jadinya.
“ Apa penjelasan kamu mas? “ tanya Ritta sambil menatap nanar suaminya.
“ … kita cari tempat lain yuk, aku jelasin..” Armand yang tampak lemas menggandeng Ritta mencari tempat lain, meninggalkan wanita yang anehnya tampak tak terkejut melihat kedatangan Ritta. Dasar pelacur murahan! Dengus Ritta dalam hati sambil melirik tajam kearah perempuan itu. Penjelasan selanjutnya dari Armand ternyata sesuai dugaannya selama ini.
“ Aku sudah menikah siri dengan Nora…maafkan aku Rit” ucap Armand perlahan.
“ Maaf??? Kamu bener – bener udah gila ya mas?” seru Ritta
“..a..aku mencintai dia Rit, sejak sebelum menikah dengan kamu..”
Ritta merasa dadanya tertusuk, jadi selama ini suaminya telah berpura – pura mencintainya, berpura – pura menikmati hubungan mereka ditempat tidur, semuanya pura – pura. Ritta merasa mual.
“ Cukup mas, aku mau pulang..” ucapnya lirih seraya berjalan tertatih menuju pintu keluar. Armand bahkan tak mencegah kepergiannya. Betapa ia telah merasa tertipu, merasa dibodohi oleh sikap Armand yang penuh kasih sayang selama ini.

Gemuruh hujan dan bunyi sirene pemadam kebakaran mengejutkan Ritta dari lamunannya. Tanpa sadar ia sudah berada di depan lobby apartemennya. Ritta Bergegas meninggalkan mobil dan berlari memasuki lift dan menekan angka 35. Sekilas ia melihat pepohonan yang beriak tertiup angin yang menderu disertai hujan yang menggila. Hujan yang sudah satu bulan ini membekukan Jakarta, belum lagi demonstrasi yang tanpa henti dibuat oleh manusia – manusia yang tak kenal lelah memperjuangkan aspirasi mereka yang membabi buta, bahkan ditengah badai yang bisa memporak porandakan aksi mereka.

Ritta berjalan menuju unit apartemennya, dan tercekat melihat pintunya setengah terbuka. Ashlan! Pekiknya sambil menerobos kedalam apartemennya. Pemandangan yang mengejutkan menyambutnya di ruang tamu. Armand dan perempuan setan itu! Armand yang sedang menggendong Ashlan, sambil membawa koper, terkejut melihat Ritta yang terengah dengan mata memerah menahan amarah.
“ MAU KEMANA KAMU???” jeritnya
“Mau dibawa kemana Ashlan ?? “ Jeritnya lagi, kali ini airmatanya sudah menggenangi kedua bola matanya.
“ Lebih baik Ashlan ikut sama aku Rit, di daerahku masih lebih aman situasinya”
“ Iya Rit, biar Ashlan ikut sama kita dulu ya..” perempuan iblis itu menimpali dengan tenangnya.
“ Tidak!! Tidak ada yang bisa memisahkan aku dengan anakku, anak yang kau dapat dari hasil berpura - pura, Armand, ingat??!” sergah Ritta
“ Udahlah Rit, kamu ga liat diluar, badai kencang sekali! Ashlan bakal lebih aman bersama kita berdua..” Tukas Armand.
Berdua? Armand, si perempuan setan akan mengasuh anak yang telah menjadi hidup dan matinya.
Entah ada kekuatan dari mana, Ritta menarik Ashlan yang tertidur, menghempasnya ke sofa hingga terbangun dan menangis.
“ Kalau kamu mau ambil anakku, bunuh aku dulu mas!” teriak Ritta, putus asa. Sekilas ia melihat pintu jendela besarnya yang sedikit terbuka. Dengan membabi buta, ia mendorong Armand dan Nora kearah jendela itu. Armand dan Nora yang tak menyangka Ritta akan berbuat seperti itu, terlambat untuk melawan. Keseimbangan mereka goyah, dan terdorong jatuh keluar jendela dari lantai 35 apartemen Ritta dan Armand. Ritta bergetar hebat, nafasnya memburu, melihat kebawah balkonnya, Armand dan Nora sudah tewas, bergandengan tangan di atap lobby apartemennya.
Di saat yang sama, Ritta melihat ombak yang teramat besar berdiri di kejauhan dan semakin mendekat. Ritta tercekat, Ashlan! Ia meraih tubuh anaknya yang masih menangis, memeluknya sambil berbisik lirih,

“ Allahu Akbar…..”

Jakarta, September 9, 2008 20:20:00