Friday, October 10, 2008

Cinta dalam Niskala



Nama dan wajahnya tanpa sengaja kulihat di situs friendster sebulan yang lalu. Wajah yang begitu indah dengan nama yang begitu aku suka. Menakjubkan bagiku bahwa situs ini bisa memudahkan orang mencari jodoh atau pacar tanpa harus repot – repot mendaftar ke biro jodoh. Lagian sangatlah bodoh dan tidak mungkin jika aku menulis ke biro jodoh salah satu Koran, dengan mencantumkan ‘seorang laki – laki, 26 tahun, mapan, matang, dewasa, mencari calon suami yang perhatian, baik hati berusia diatas 30 tahun. Not going to happen in this country!
Anyway, entah kenapa aku begitu tergila – gila melihat wajahnya. Ia tidaklah sempurna, tetapi wajahnya begitu mempesona, tampan, mata yang agak sipit, dan jenggot kebiruan yang menghiasi wajahnya di semua foto yang ada di profilenya. Kuberanikan diri, menulis pesan murahan (karena aku tak tahu harus menulis apa lagi) “boleh kenalan ? “ dan (untungnya) dia membalas dengan ‘ boleh banget’.

Umurnya 33 tahun, dan dia sudah menikah, ketika kami sudah terbiasa bertegur sapa di Yahoo! Messenger, aku beranikan diri bertanya, apakah dia mencintai istrinya, dan ia pun mengiyakan sembari menambahkan kalau dia sangat mencintai istrinya, tetapi masih membutuhkan pelukan pria di malam – malamnya. Harusnya aku membenci dia saat itu juga, aku membutuhkan cinta, bukan hanya kepuasan nafsu semata, aku butuh pelukan tidak hanya saat aku telanjang, tetapi pelukan disaat aku berpakaian lengkap, ditempat umum jika perlu. Tapi, aku tidak membencinya, aku bahkan semakin menggilainya. Kuminta nomor ponselnya, dan mengirim pesan singkat, walaupun sebagian besar tak pernah dia balas. Aku bahkan mengirimkan fotoku dengan pose menantang untuknya, sesuai dengan yang ia minta. Aku merasa seperti manusia murahan yang mengiba cinta pada orang yang sebagian dirinya sudah dimiliki orang lain. Tapi, aku biarkan perasaan itu menguap, karena aku mencintainya.

Cukup aneh bahkan untuk orang yang aneh seperti aku, mencintai seseorang hanya dengan melihat fotonya. Hanya dengan menerima kata – kata indah yang ia ketik di messengerku, hanya dengan pesan – pesan singkat sederhana yang ia torehkan di ponselku. Aku tergila – gila padanya.

Aku ingin sekali bertemu dengannya, hanya makan malam saja cukup, tak perlu seks sesudahnya, walaupun dadaku berdesir setiap kali aku melihat fotonya yang baru keluar dari kolam renang, rasanya dada yang bidang itu seperti menarik – narik aku untuk mencumbuinya, dan bibirnya seakan berteriak untuk diciumi dan melumat bibirku tanpa ampun. Aku ingin menyerahkan diriku padanya, seutuhnya, jika ia bisa mencintai aku. Cinta, walaupun rasanya sudah muak mendengar kata itu, aku masih membutuhkan cinta dalam hidupku, untuk menerangiku, menuntunku dan menggumuliku.

Satu bulan ini aku berusaha agar ia menemuiku, tapi gagal karena ia terlalu banyak acara diluar kantor. Seringkali ia bilang kalau ia tak sabar untuk bertemu denganku, tapi nyatanya dia hanyalah seorang lelaki yang agak egois. Bukankah semua lelaki begitu? Aku tetap sabar sampai detik ini. Aku sangat yakin bahwa ia adalah seseorang yang sempurna untukku. Tak terbersit sedikitpun keraguan bahwa ia adalah orang yang salah. Aku menggilainya.

Saat itu aku hanya ingin dia, hanya dia, walaupun aku tak ingin merebutnya dari orang yang ia tiduri setiap malam. Aku hanya ingin secuil cintanya untukku, sedikit hangat tubuhnya untukku dan seulas senyumnya untukku. Hanya itu. Sampai saatnya tiba, aku akan menunggunya disini, ditengah kesendirian dan kesakitanku yang perlahan mulai memudar sejak aku menemukannya.

Saat itu pun tiba…

Hari itu tak biasanya ia meneleponku, bukannya selama ini ia tak mau meneleponku, aku yakin itu karena ia tak punya cukup waktu untuk itu, atau ia tak mau istrinya mengetahui bahwa suaminya sedang main gila dengan seorang lelaki. Tapi hari ini lain, mungkin birahinya sudah memuncak akibat foto yang aku kirim beberapa waktu yang lalu, mungkin juga ia sangat ingin bertemu denganku untuk mengetahui apakah aku nyata, sebagaimana akupun bertanya – tanya, apakah ia indah dan sempurna seperti yang aku bayangkan.

Ia meneleponku untuk membuat janji bertemu denganku hari ini. Kencan! Aku seperti melayang hari itu, semua pekerjaanku, janji dengan klien – klienku terasa begitu menyiksa, hari terasa begitu panjang karena aku menunggu tenggelamnya matahari untuk melihat sang pujaan jiwa. Janji kamu hari itu bertempat di sebuah restoran favoritnya di Plaza Senayan, aku tak begitu sering makan disana, karena kupikir itu terlalu mahal untuk ukuran kantongku yang sering merengek minta diisi. Kukirim pesan singkat untuk mengetahui keberadaannya saat itu, ternyata ia masih terjebak macet di semanggi. Aku pun mencari meja, dan memesan secangkir teh untuk meredakan kegugupanku.Kurasakan jantungku mulai berdetak kencang, kucoba menyalakan laptop ku dan membuka sebuah hidden folder yang berisikan foto – foto yang ia kirim padaku. Lagi – lagi aku tertegun melihat foto – foto itu, my charming king, too bad he already had his queen. Sudah sepatutnya bukan, lelaki setampan dia memiliki seorang queen, instead of a drag queen seperti aku? Aku sedikit terkikik, mendengar pikiranku sendiri.

“ Sammy?”

Panggilan itu membuatku tergelagap, Ya Tuhan! Ia berada tepat di hadapanku saat ini, Sang Raja tampanku, Tristanku, Romeoku. Wajahnya lebih indah dari apa yang biasa aku lihat di komputerku, badannya tinggi besar, senyumnya lebar dan pandangan matanya membuatku tak bisa berbicara saat itu.

“…Mm.. Raditya?” tanyaku, Bodoh, jelas – jelas orang ini memang Raditya yang sudah kutunggu – tunggu sejak tadi.
Pertemuan kami saat itu berlangsung cukup lama, kami bercanda, mengobrol mulai dari hal – hal sepele seperti acara TV kesukaannya, gadget favoritnya hingga masalah politik yang sebenarnya aku sebal membahasnya, tapi bagiku rasanya topik mengenai kotoran kambing pun akan terasa sangat menarik untuk dibahas bersamanya. Malam mulai beranjak, kami pun memutuskan untuk melangkahkan kaki kami menuju sebuah hotel di kawasan Wahid Hasyim, kebetulan istrinya sedang keluar kota, jadi ia bisa bebas menginap bersamaku malam itu. Harusnya aku merasa kasihan pada istrinya, disaat ia sedang bekerja di luar kota, suaminya malah memadu birahi bersamaku. Akal sehatku sudah tak bekerja dengan sehat lagi malam itu, aku hanya ingin bersamanya, apapun yang ia inginkan, akan kuberikan padanya.

Kami bercinta malam itu, walaupun aku tak yakin dia mencintaiku, tapi aku jelas – jelas mencintainya bahkan sebelum kami bertemu. Malam itu aku menyerah kalah, ketika bibirnya yang indah mulai menyentuh leher, kuping hingga perutku. Aku hanya bisa mendesah ketika jemari tangannya yang kokoh mulai menjelajahi bagian paling pribadiku. Bahkan aku menyerah ketika ia memaksa ingin memasuki diriku, aku menjerit dalam sakit dan nikmat ketika ia berada dalam diriku, hingga akhirnya tubuh berpeluh itu terkulai lemas diatas tubuhku. Aku mencintainya. Aku menggilainya.

Setelah hari itu, kami mulai membuat jadwal pertemuan, jadwal bercinta tepatnya, selalu dimulai dengan makan malam dan diakhiri dengan peluh dan pesanan room service di tengah pagi buta. Kadang ia memelukku sampai pagi, tapi tak jarang pula ia mengecup keningku dan meninggalkanku di tengah malam seperti pelacur. Tapi aku bahagia, karena ia selalu meneleponku di pagi hari, untuk menanyakan keadaanku. Aku selalu menjawab kalau aku baik – baik saja dan aku mencintainya. Walaupun ia tak pernah membalas pernyataan cintaku, aku tak mengeluh, karena aku tahu ia memiliki perasaan yang sama terhadapku. Cinta tak harus diucapkan di bibir, terkadang bisa diungkapkan dengan berbagai macam cara, tidur bersama misalnya.
Hari itu, tepat 6 bulan sejak pertemuan kami yang pertama, tepat 6 bulan pula sejak ia mengoyak dan menindih tubuhku. Aku mulai berpikir terlalu jauh tentang hubungan kami, aku mulai menuntut lebih dari hubungan seks setiap jumat malam. Aku ingin perhatian lebih, aku menginginkannya lebih dari apapun di dunia ini. Aku mulai bertanya kenapa ia tak pernah mengatakan bahwa ia mencintaiku, dan ia selalu mengalihkan pembicaraan. Aku teringat dulu diawal perkenalan kami, aku pernah menanyakan apakah ia mencintai istrinya, dan ia menjawab lugas bahwa ya, ia mencintai istrinya. Aku mulai sering mengirimkan pesan singkat lewat ponselku, hanya untuk bertanya, dia sedang ada dimana, sudah makan atau belum, dan pertanyaan – pertanyaan posesif lainnya. Ia tak pernah membalas.

Suatu malam, di sebuah kamar hotel, tepat setelah kami berdua terengah – engah dalam kubangan keringat kami, ponselku berdering, di seberang sana, ada suara wanita yang terdengar dingin, marah dan terluka. Sang ratu telah mengetahui semuanya, sang ratu ingin sang raja berhenti menemuiku, sang ratu ingin aku pergi dari kehidupannya dan sang raja. Kututup ponselku dan menyadari bahwa air mataku telah menggenang, air mata yang selama ini tak pernah mengalir semenjak ayahku meninggal 10 tahun yang lalu. Kuguncang tubuh Raditya dengan putus asa, kuciumi bibir dan tangannya sambil meraung kencang, aku tak ingin kehilangan dia, aku tak ingin malam – malamku tanpa kehadiran dia, aku tak ingin berhenti jadi gila karena menginginkannya. Kuceritakan apa yang terjadi, dan kusuruh ia pulang menemui istrinya. Ia hanya terdiam, tanpa bicara apa – apa langsung berpakaian, mengecup keningku dan meninggalkanku sendirian malam itu. Aku merangkak menuju kamar mandi dan memuntahkan semua isi perutku.

Hari itu, tepat 7 hari setelah kejadian malam itu, 7 hari pula Raditya tidak menghubungiku, ponselnya tak pernah lagi aktif, messengernya pun begitu. Aku merasa hampa dan terbuang, kecewa dan terlunta. Insomnia mulai merayapi malam – malamku, hanya rokok dan berbotol – botol air putih menjadi sahabat sejatiku saat itu. Hingga malam itu, aku sudah tak tahan lagi, aku bergegas mencari alamat rumahnya, aku harus bertemu dengannya.

Taksi yang kutumpangi berhenti di depan sebuah rumah besar, di kawasan Jakarta Barat. Kulewati gerbang rumahnya yang setengah terbuka, setengah berlari menuju pintu rumah Raditya. Dengan gemetar kuketuk pintu itu perlahan, dan seraut wajah cantik muncul dari balik pintu. Wanita itu begitu cantik dan elegan, berperawakan ramping, dengan sepasang kaki jenjang yang mengintip di balik gaun tipisnya. Cantik, dingin dan terluka. Kuutarakan maksud kedatanganku untuk menemui Raditya, dan memperkenalkan namaku. Wanita itu meradang ketika mendengar namaku, ia menerjang, memukul, mencaci dan mencakariku seperti hewan buas yang terluka. Aku tersentak dan merasakan tubuhku sangat lemas tanpa bisa melawan semua pukulan dan caci makinya. Hingga akhirnya ia kelelahan dan meninggalkanku, aku hanya bisa terbaring di depan pintu rumah Raditya dengan luka – luka berdarah di wajah, lengan dan dadaku. Aku tak mampu lagi berdiri, rasa sesal dan sakit hatiku menggemuruh di dadaku. Tapi aku tak mampu bangkit dan membalas semua perlakuannya padaku. Memang seharusnya ini yang terjadi, aku sudah merusak kebahagiaan wanita ini, tapi bagaimana dengan kebahagiaanku? Apakah ada yang peduli? Seraut wajah indah yang amat kukenal datang menghampiri, tapi tampak pucat.
Ia meraih tubuhku, memeluk dan menangis sejadi – jadinya. Ia minta maaf, dan akhirnya ia mengatakan sebuah kalimat yang kuimpikan selama ini, Ia mencintaiku. Tapi semuanya sudah berakhir, ia tak mungkin meninggalkan istri dan anak – anaknya, ia sudah bersumpah di bawah Al – Quran bahwa ia tak akan pernah menemui aku lagi. Aku dianggap hina, nista dan haram buat Raditya.

Hari ini, sampai detik ini, aku masih mencintainya, tapi aku telah melepaskannya, aku tak menyesal, sakit yang kudera akibat siksaan dari istri Raditya, tak sebanding dengan luka menganga yang ada didalam jiwaku, luka yang perlahan mulai menutup dengan ketulusan, cinta sejati memang tak harus memiliki, cintaku pada Raditya tak akan pudar. Hanya waktu yang bisa mengikis cintaku padanya. Walaupun selamanya aku akan terjebak dalam niskala karenanya. Raditya, satu – satunya cinta dalam hidupku. Selamanya.


Bandung, October 3, 2008 00:55

No comments: