Tuesday, September 09, 2008

The Last Day of Jakarta

[ Ritta ]


Ritta memacu mobil SUV nya dengan nafas menderu dan jantung berdebar. Pikirannya terus tertuju pada anaknya yang demam tinggi di rumah. Juga suaminya yang.. ah aku harus cepat pulang! Pikirnya seraya menginjak pedal gas.
Jalan menuju rumahnya yang berada di utara Jakarta, yang biasanya lengang kini tampak carut marut, penuh dengan manusia – manusia yang begitu marah dan mengamuk. Dikelilingi asap tebal yang mengepul dari mobil – mobil yang dibakar membuat Ritta melebarkan matanya menghadapi jalan raya.

Mudah – mudahan kerusuhan tidak sampai ke daerah rumahnya, pikiran itu terus diulang – ulangnya dengan panik. Matanya basah mengingat kondisi Ashlan yang ditinggalkannya dan suaminya Armand yang sudah satu minggu lebih tidak pulang. Beruntung atasannya Pak Adrian, mengizinkannya pulang lebih cepat.

Armand.. ya Armand yang begitu ia cintai, begitu ia kagumi sepanjang umur pernikahan mereka telah mendua. Ritta memergokinya sedang memasuki sebuah hotel bintang lima di kawasan mega kuningan, ketika ia sedang dengan senangnya menimang hadiah ulang tahun yang baru dibelinya untuk Armand. Ia teringat saat itu badannya serasa membeku dan lututnya terasa sangat lemas hingga ia terduduk di trotoar setelah mobil Armand dan perempuan itu memasuki pelataran lobby hotel tersebut. Beruntung salah satu satpam hotel itu membantu dirinya yang hampir membeku di trotoar dan membantunya memasuki mobilnya yang terparkir tak jauh dari hotel itu. Ia bergegas memacu mobilnya menuju gedung kantornya dan menangis tanpa suara di dalam mobilnya. Hatinya begitu terguncang melihat Armand, Armand yang setia, Armand yang merupakan menantu favorit ayahnya, Armand yang selalu hadir disisinya saat ia sedih.

Sejak hari itu Armand seakan menghilang, tak masuk kantor, dan juga tak pulang ke rumah. Ritta telah kehabisan air mata dan tenaga untuk mencari suaminya. Ia pasrah, sampai suatu hari ia memergoki Armand untuk kedua kalinya di sebuah mall. Amarah dan kekecewaan yang memuncak, membuatnya berani memanggil suaminya yang sedang duduk di sebuah coffee shop, tertawa – tawa dengan seorang perempuan cantik berambut merah.
“ Mas Armand?..” ucap Ritta bergetar menahan tangis seraya mendekati meja Armand.
“ Rit..Ritta?” Armand tergelagap terkejut melihat kedatangan istrinya.
“ Gila kamu mas, satu minggu aku nyari kamu, satu minggu aku ga tidur nungguin kamu.. sekarang kamu ada disini, sama perempuan lain!! Otak kamu ada dimana mas??” seru Ritta tertahan, emosinya tidak membuatnya menjerit atau menampar Armand, yang begitu ingin ia tampar sejadi – jadinya.
“ Apa penjelasan kamu mas? “ tanya Ritta sambil menatap nanar suaminya.
“ … kita cari tempat lain yuk, aku jelasin..” Armand yang tampak lemas menggandeng Ritta mencari tempat lain, meninggalkan wanita yang anehnya tampak tak terkejut melihat kedatangan Ritta. Dasar pelacur murahan! Dengus Ritta dalam hati sambil melirik tajam kearah perempuan itu. Penjelasan selanjutnya dari Armand ternyata sesuai dugaannya selama ini.
“ Aku sudah menikah siri dengan Nora…maafkan aku Rit” ucap Armand perlahan.
“ Maaf??? Kamu bener – bener udah gila ya mas?” seru Ritta
“..a..aku mencintai dia Rit, sejak sebelum menikah dengan kamu..”
Ritta merasa dadanya tertusuk, jadi selama ini suaminya telah berpura – pura mencintainya, berpura – pura menikmati hubungan mereka ditempat tidur, semuanya pura – pura. Ritta merasa mual.
“ Cukup mas, aku mau pulang..” ucapnya lirih seraya berjalan tertatih menuju pintu keluar. Armand bahkan tak mencegah kepergiannya. Betapa ia telah merasa tertipu, merasa dibodohi oleh sikap Armand yang penuh kasih sayang selama ini.

Gemuruh hujan dan bunyi sirene pemadam kebakaran mengejutkan Ritta dari lamunannya. Tanpa sadar ia sudah berada di depan lobby apartemennya. Ritta Bergegas meninggalkan mobil dan berlari memasuki lift dan menekan angka 35. Sekilas ia melihat pepohonan yang beriak tertiup angin yang menderu disertai hujan yang menggila. Hujan yang sudah satu bulan ini membekukan Jakarta, belum lagi demonstrasi yang tanpa henti dibuat oleh manusia – manusia yang tak kenal lelah memperjuangkan aspirasi mereka yang membabi buta, bahkan ditengah badai yang bisa memporak porandakan aksi mereka.

Ritta berjalan menuju unit apartemennya, dan tercekat melihat pintunya setengah terbuka. Ashlan! Pekiknya sambil menerobos kedalam apartemennya. Pemandangan yang mengejutkan menyambutnya di ruang tamu. Armand dan perempuan setan itu! Armand yang sedang menggendong Ashlan, sambil membawa koper, terkejut melihat Ritta yang terengah dengan mata memerah menahan amarah.
“ MAU KEMANA KAMU???” jeritnya
“Mau dibawa kemana Ashlan ?? “ Jeritnya lagi, kali ini airmatanya sudah menggenangi kedua bola matanya.
“ Lebih baik Ashlan ikut sama aku Rit, di daerahku masih lebih aman situasinya”
“ Iya Rit, biar Ashlan ikut sama kita dulu ya..” perempuan iblis itu menimpali dengan tenangnya.
“ Tidak!! Tidak ada yang bisa memisahkan aku dengan anakku, anak yang kau dapat dari hasil berpura - pura, Armand, ingat??!” sergah Ritta
“ Udahlah Rit, kamu ga liat diluar, badai kencang sekali! Ashlan bakal lebih aman bersama kita berdua..” Tukas Armand.
Berdua? Armand, si perempuan setan akan mengasuh anak yang telah menjadi hidup dan matinya.
Entah ada kekuatan dari mana, Ritta menarik Ashlan yang tertidur, menghempasnya ke sofa hingga terbangun dan menangis.
“ Kalau kamu mau ambil anakku, bunuh aku dulu mas!” teriak Ritta, putus asa. Sekilas ia melihat pintu jendela besarnya yang sedikit terbuka. Dengan membabi buta, ia mendorong Armand dan Nora kearah jendela itu. Armand dan Nora yang tak menyangka Ritta akan berbuat seperti itu, terlambat untuk melawan. Keseimbangan mereka goyah, dan terdorong jatuh keluar jendela dari lantai 35 apartemen Ritta dan Armand. Ritta bergetar hebat, nafasnya memburu, melihat kebawah balkonnya, Armand dan Nora sudah tewas, bergandengan tangan di atap lobby apartemennya.
Di saat yang sama, Ritta melihat ombak yang teramat besar berdiri di kejauhan dan semakin mendekat. Ritta tercekat, Ashlan! Ia meraih tubuh anaknya yang masih menangis, memeluknya sambil berbisik lirih,

“ Allahu Akbar…..”

Jakarta, September 9, 2008 20:20:00

No comments: